5 Kasus Besar Berhasil Diungkap Ditreskrimum Polda Jateng

bhinnekanusantara.id – Jajaran Ditreskrimum Polda Jateng mengungkap 5 kasus besar. Kombes Pol Budi Haryanto dan Kabidhumas Polda Jateng Kombes Pol Iskandar Fitriana Sutrisna merinci lima kasus itu meliputi curas di Demak, penganiayaan di Secang, prostitusi di Kota Semarang, perjudian di Sragen dan penipuan di Pati, dalam press release di Loby Ditreskrimum Polda Jateng, Rabu (20/11/2019)

1. Kasus Pencurian dengan kekerasan di Demak

Kasus ini telah terjadi pada, Minggu (4/11/2019) pukul 00.30 WIB di Jalan Lingkar Demak Desa Kendaldoyong.

Tersangka 5 orang, dua di antaranya pengendali dari dalam lapas, Wawan (55) lapas Pati dan Jamal (55) lapas Kedungpane Semarang. Sedangkan 3 tersangka sebagai eksekutor ialah Ali alias AJ, Yanto, serta Ikhsan alias Tarigan. Korban bernama Philipus Minta.

“Jadi korban menyetir mobil sendiri dari Surabaya tujuan Jakarta. Saat malam itu korban beristirahat di pinggiran jalan, tiba-tiba dicekik sejumlah orang yang naik ke mobil, mengikat kaki dan tangan, melakban mulut, menutup matanya serta membuangnya di pinggiran jalan di Kecamatan Tingkir Salatiga,”kata Dirreskrimum.

Mobil dan isinya berupa spare part kendaraan, lampu, alat terapi, mangkok dan lain-lain bernilai sekitar Rp 400 juta dibawa kabur. Mereka dikendalikan 2 orang dari lapas dengan alat komunikasi handphone.

“Kita jerat pasal 365 KUHP dengan ancaman penjara maksimal 12 tahun,” terang Budi.

2. Kasus Penganiayaan di Secang

Ditreskrimum meringkus dua pelaku penganiayaan berinisial AA dan RN. Mereka beraksi di pertigaan Secang, Sabtu (16/11/2019) pukul 13.20. Saat itu, sekitar 15 orang mengendarai 8 unit motor melaju dari arah Temanggung ke Semarang.

Di lokasi kejadian, mereka berpapasan dengan kelompok yang menjadi korban. AA dan RN mengendarai motor berplat nomer polisi AA 2747 meluncurkan 3 kali tembakan ke arah sasaran.

Korban berinisial RZ terkena tembakan pada bagian leher, beruntungnya bisa selamat.

“Jadi iseng cari gara-gara. Pasal yang dijerat pasal 351 ayat 1 KUHP tentang penganiayaan dengan ancaman penjara maksimal 2 tahun,” lanjutnya.

3. Kasus Prostitusi di Kota Semarang

Ditreskrimum menangkap dua mucikari bernama Irfan (Marcel) dan DC alias Papi (42).

Marcel ditangkap lantaran diduga sengaja mempermudah dan mengambil keuntungan atas jasa pelacuran di Zeus Karaoke. Sedangkan DC ditangkap saat berada di Emperium SPA pada, Selasa (12/11/2019) sekiranya pukul 16.30 WIB.

Keduanya dijerat pasal 296 KUHP dengan ancaman penjara plaing lama 1 tahun 4 bulan, serta pasal 506 KUHP.

4. Kasus Perjudian di Sragen

Polisi menggelandang belasan orang yang terlibat perjudian di Sragen.

Tersangka P (sebagai pengecer), RH (bandar), DB alias kenthung (pengecer), dan S (Bandar) dan beberapa teman lain berjumlah 13 orang.

Mereka melakukan perjudian dengan menggunakan CAP JIE Kie dari Hongkong dan Singapura pada 2 tempat berbeda.

Di sebuah rumah di Kelurahan Gemolong Kecatan Gemolong Sragen, (12/11/2019) dan Brongkol, Kecamatan Trucuk Kabupaten Klaten, (14/11/2019).

“Dari 4 tersangka disita uang senilai Rp 936 ribu dan 7 HP. Mereka dijerat pasal 303 KUHP dengan ancaman penjara maksimal 10 tahun,” lanjut Budi.

5. Kasus Penipuan di Kabupaten Pati

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Iskandar Fitriana Sutisna berujar jajaran Ditreskrimum menangkap dua pelaku penipuan. Mereka berinisial SB dan MD.

MD selaku panitia Pendaftaran Tanah Sitimatis Lengkap (PTSL) di Desa Alasdowo Kecamatan Dukuh Seti Kabupaten Pati.

Para pelaku menarik pungutan sebesar Rp 600 ribu ditambah Rp 250 ribu pada masing-masing orang sejak Maret 2019.

Hingga saat ini sudah ada 1.630 pemohon dengan total unag terkumpul senilai Rp 440 juta.

“PTSL dari pemerintah menggratiskan tidak memungut bayaran. Oleh oknum dua orang panitia ini ditarik bayaran. Sebenarnya sesuai ketentuan ada biaya yang dibebankan pemohon dengan total kisaran Rp 100 ribu, tapi tersangka memungut biaya Rp 600 ribu, lalu sisanya buat apa,” terang Kabid Humas Polda Jateng.

Atas perbuatannya, kedua tersangka dijerat pasal 378 KUHP dan atau 372 KUHP dengan ancaman penjara maksimal 4 tahun.

Kabidhumas mengimbau masyarakat tetap waspada dan lebih teliti saat pengurusan sertifikat tanah.

Karena pada dasarnya PTSL dari pemerintah tidak dipungut biaya.

 

sumber : humas polda jateng

editor : saibumi @polda jateng