Akibat Alat Berat, Situs di Proyek Tol Pandaan-Malang Rusak

Malang – Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur kembali datang ke lokasi situs kuno yang berada di tengah proyek tol Pandaan-Malang. Kedatangan tim BPCB memastikan kondisi situs sebagai bahan penelitian. Peninggalan yang diyakini dari masa Majapahit itu dinyatakan telah rusak.

Batu bata besar berserakan di STA 37 proyek tol Pandaan-Malang. Lokasi di mana susunan batu bata kuno pertama kali ditemukan. Kawasan itu masuk Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Sebagian susunan batu bata diyakini sebagai tempat pemujaan di era Majapahit sudah hancur karena aktivitas alat berat pengerjaan tol. Potret itulah yang dilihat tim BPCB ketika mendatangi lokasi situs, Jumat (8/3/2019), sore.

Koordinator BPCB wilayah Malang, Haryoto mengatakan, bahwa kondisi situs telah berubah dari aslinya, alias rusak karena pengerjaan proyek tol. Dirinya belum bisa memastikan luas area situs yang masuk dalam center line tol Pandaan-Malang itu.

“Kalau melihat kondisinya sudah rusak. Belum dapat diketahui berapa luasnya, tentunya harus melalui penggalian (ekskavasi) dulu untuk memastikannya,” beber Haryoto ditemui di lokasi.

Haryoto tidak datang sendiri, melainkan bersama Sulikhin perwakilan BPCB untuk wilayah Pasuruan. Mengacu pada temuan sebelumnya di daerah lain, susunan batu bata di area STA 37 Sekarpuro mirip dan diyakini berdiri di era Majapahit.

“Sama persis dengan temuan di daerah lain. Batu bata ini, biasa digunakan di era Majapahit. Dan tempat ini bisa diduga sebagai tempat peribadatan umat Hindu di jaman itu,” bebernya.

Mengapa mengerucut sebagai tempat peribadatan atau pemujaan? Haryoto berbekal kepada batu bata kuno yang ditemukan. Menurut dia, ada tiga macam jenis batu bata dengan ukuran yang berbeda.

“Ukuran tebal dan panjang ada tiga macam. Ada panjang 36 centimeter, 34 centimeter dan 50. Begitu juga dengan tebalnya, ada yang 6 centi dan ukuran lain. Bisa jadi ini merupakan susunan anak tangga,” terangnya.

Apa yang ditemukan, lanjut dia, akan dilaporkan kepada BPCB sebagai bahan menindaklanjuti misteri keberadaan situs. “Apakah nanti dilakukan ekskavasi, menunggu laporan ini. Untuk sementara proyek tol di lokasi, kami minta untuk dihentikan sementara,” jelasnya.

Tim arkeolog dari BPCB juga akan datang ke lokasi awal pekan depan. Diharapkan teka-teki adanya situs kuno ini bisa segera terungkap tujuan dari keberadaannya.

Dalam kesempatan itu, Haryoto juga menyebut radius sekitar 500 meter arah utara dari ditemukan situs batu bata kuno, diyakini sebagai pemukiman penduduk. Beberapa keterangan warga menyakinkan akan dugaan itu.

“500 meter ke utara sana, diduga kuat pemukiman warga, dengan ditemukannya benda-benda kuno seperti kaca benggala, koin dan emas,” ungkap Haryoto.

Untuk melindungi kawasan situs, garis pembatas telah dipasang. BPCB juga meminta dukungan aparat kepolisian dan pemerintah desa untuk melindungi cagar budaya selama proses penelitian.

 

 

Sumber : Detik

Editor : Awlina login by Polda Jateng