oleh

Ambles, Jalan Penghubung Kabupaten Semarang dengan Demak Ditutup

Kab. Semarang – Jalan utama penghubung wilayah Ungaran, Kabupaten Semarang dengan Mranggen, Kabupaten Demak ditutup.

Kondisi ini dikarenakan lahan seluas 5 hektar di Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang amblas dengan kedalaman kurang lebih 30 Meter.

Kondisi tanah yang amblas menjalar ke jalan utama penghubung mendekati pemukiman penduduk.

Pemdes setempat telah berkoordinasi dengan Pemkab Semarang yang dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum (DPU) untuk menindaklanjuti permasalahan tersebut.

Hasilnya, akan dilakukan kajian mendalam bersama Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng dan Fakultas Teknik Undip Semarang mengenai seperti apa fenomena yang terjadi, kedalaman dan pergerakan tanahnya.

Hal ini dibenarkan Kepala Desa Kalongan Yarmuji. Kepada wartawan Selasa (30/8), Yarmuji menyebutkan  tanah longsor yang disebabkan pergerakan tanah sudah terjadi dalam beberapa kali ini.

“Tanah bergerak sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu namun kejadian longsor besar baru terjadi pada bulan Februari 2022 lalu,” ungkap Yarmuji.

Sejak saat itu, pergerakan tanah terus terjadi hingga membuat ruas jalan sepanjang lebih kurang 50 meter itu ambrol dan hanya menyisakan jalur dengan lebar tidak lebih dari satu meter.

Selain membuat hilangnya sejumlah area perkebunan, longsor juga mengakibatkan ruas ditutup permanen. Hal itu menyusul longsor yang semakin parah dan anjloknya jalur akibat pergerakan tanah.

Karena kondisi longsor saat ini semakin mengkhawatirkan mengingat jalan menjadi lereng jurang yang cukup dalam, Pemdes setempat akhirnya mengambil keputusan untuk menutup jalur penghubung Kabupaten Semarang ke Mranggen, Demak.

“Karena sudah mendekati pemukiman masyarakat terutama warga dusun Bandungan, dimana longsor tersebut terjadi akhirnya jalur penghubung Kabupaten Semarang ke Mranggen Demak kita tutup. Yang biasa melintas harus sedikit memutar lewat Jalan Bima,” paparnya

Dari pantauan, longsor terus melebar sampai di mendekati pemukiman warga. Sejumlah penduduk warga asli setempat memohon Pemerintah untuk bisa menangani hal ini.

“Karena selain memutus akses jalan kondisi ini juga membuat kami khawatir,” aku Suratno, warga Dusun Bandungan, kec. Ungaran Timur.