oleh

Atribut Kampanye di Pohon, Wawasan Lingkungan Caleg/Capres Rendah

bhinnekanusantara.id – Seandainya pohon bisa bicara, mungkin mereka akan protes karena tubuhnya dipasangi atribut kampanye atau alat peraga kampanye (APK) dengan cara dipaku, diikat pakai tali dan kawat.

Pemandangan pepohonan yang penuh dengan APK Pemilu 2019, baik dari tim capres maupun legislatif, mudah ditemukan di Kota Bandung. Walaupun sudah ditertibkan Satpol PP Kota Bandung, namun masih banyak APK yang berebut ruang di batang-batang pohon.

Manager Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI ) Jawa Barat, Meiki W Paendong, mengatakan pihaknya sebagai organisasi lingkungan berusaha mewakili pohon yang tidak bisa bersuara.

“Pohon sebagaimana lingkungan tidak bisa menyuarakan keluhannya, mereka tidak bisa seperti manusia yang bisa komplain. Kita yang mewakili pohon melihat pemasangan APK ini bukan hanya menghasilkan sampah visual, tetapi juga cerminan dari wawasan lingkungan caleg/capres yang masih rendah, tercermin lewat tindakan seperti itu,” kata Meiki, saat dihubungi Bandungkiwari, Selasa (12/3).

Ia menuturkan, sejak Pemilu 2014 Walhi Jabar sudah mengkritisi pemasangan APK di pohon. Waktu itu, pemasangan APK di pohon juga menjadi perhatian publik. KPU kemudian mengeluarkan peraturan yang melarang pemasangan APK di pohon atau tumbuhan.

“Ternyata sekarang fakta masih terus berulang,” kata Meiki.

Memang sejauh ini belum ada kajian sejauh mana paku, kawat atau tali APK mengganggu pertumbuhan pohon. Tetapi dari sisi estetika lingkungan, APK tersebut menghasilkan sampah visual.

“Dan tidak elok juga caleg/capres ini memasang alat peraga dirinya di pohon. Caleg/capres dengan mempraktikkan itu mencerminkan wawasan lingkungan yang rendah dan menganggap sepele pada pohon, padahal kalau ditelaah lebih dalam, mereka menunjukkan belum memiliki wawasan lingkungan hidup yang luas dan dalam,” katanya.

Padahal, wawasan lingkungan hidup mutlak dimiliki caleg maupun capres. Wawasan ini yang akan menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan jika mereka terpilih. Jadi, menurutnya, caleg maupun capres yang memandang sepele pada pohon tidak pantas dipilih.

“Kesadaran lingkungan hidup, kesadaran ekologis, mutlak dimiliki manusia, apalagi caleg yang menjadi representasi suara rakyat. Harusnya mereka memberikan contoh yang berwawasan lingungan pada pemilihnya atau konstituennya,” ujarnya.

Tentu saja yang memasang APK di pohon bukan caleg/capresnya langsung, melainkan oleh tim kampanye atau konstituennya. Tetapi ini tidak menjadi dalih sebagai pembenaran memasang APK di pohon.

“Paling tidak seharunya caleg/capres ini memberikan insturksi atau arahan ke konstituennya supaya tak dipasang di pohon, apalagi aturannya sudah ditetapkan KPU,” katanya.

Sumber : Kumparan

Editor : Kiss login by Polda Jateng