Baku Tembak TNI-OPM: Proyek Trans Papua Dilanjutkan Tentara

Nduga – Meski baku tembak terbaru antara TNI dan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kabupaten Nduga memunculkan korban jiwa di masing-masing kubu, proyek jalan Trans Papua diklaim akan terus berlanjut.

Di sisi lain, warga Nduga berharap pemerintah mengambil inisiatif gencatan senjata. Mereka yang kini mengungsi secara swadaya ke berbagai lokasi tak berani pulang kampung walau ingin hidup normal.

Berdasarkan klaim dari TNI dan kelompok OPM, kontak senjata pada Kamis (8/3), menewaskan tiga tentara dan sembilan anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-OPM.

Tiga personel TNI yang tewas dalam kejadian itu adalah Serda Mirwariyadin, Serda Yusdin, dan Serda Siswanto Bayu Aji.

“Dalam sepekan ke depan, setidaknya 600 prajurit TNI secara bertahap akan terus dikirim ke Nduga,” kata juru bicara Kodam Cenderawasih, Kolonel Muhammad Aidi.

Dua batalyon tentara dari Kodam Wirabuana ditugaskan mengambil alih pengerjaan jembatan di Nduga yang mandek sejak kontak tembak besar, Desember 2018.

Saat itu sejumlah karyawan PT Istaka Karya, perusahaan pelat merah penggarap proyek Trans Papua di Nduga tewas diserang kelompok yang diduga OPM.

“Tidak ada lagi karyawan Istaka Karya yang berani masuk, jadi TNI maju untuk melanjutkan,” ujar Aidi saat dihubungi, Jumat (08/3).

“Ada 21 proyek jembatan di Nduga, semuanya akan dikerjakan TNI. Tenaga ahli dari Istaka Karya dan PT Brantas Abdibraya, tapi operator tenaga berat dari kami,” tuturnya.

Aidi mengatakan, secara umum proyek Trans Papua telah mencetak jalan-jalan baru di berbagai distrik di Nduga. Namun jalanan itu masih terputus karena puluhan jembatan urung berdiri.

Adapun pengerjaan proyek jembatan belum dapat dikebut dalam waktu dekat. Penyebabnya, penerjunan prajurit ke Nduga terhambat akses transportasi.

“Menambah pasukan di Papua jangan dibayangkan seperti di Jawa atau Sumatera, dikirim hari ini, hari itu juga sampai. Harus bertahap karena transportasi ke sana sangat terbatas.”

“Helikopter hanya bisa mengangkut beberapa orang, sedangkan kalau jalur darat lewat Wamena, kendaraan double cabin paling hanya muat enam orang,” kata Aidi.

Setelah rentetan kontak tembak di Nduga yang disusul operasi pencarian kelompok bersenjata oleh TNI, ribuan warga sipil mengungsi ke berbagai wilayah.

Ence Geong, Sekretaris Yayasan Teratai Hati Papua di Wamena, menyebut ratusan warga Nduga itu kini bertahan dengan perbekalan seadanya.

Di sisi lain, mereka belum bisa kembali ke kampung karena kontak tembak masih bisa terjadi sewaktu-waktu.

“Mereka menanti tindakan nyata negara untuk mengatasi persoalan ini. Mereka belum berpikir pulang ke kampung, tapi bagaimana bisa bertahan hidup di pengungsian,” kata Ence.

“Mulailah selesaikan kasus Nduga tanpa kekerasan atau menambah pasukan, tapi jalan lain, misalnya gencatan senjata.”

Ence kini mengurus sekolah darurat bagi anak-anak pengungsi Nduga di Wamena. Ia berkata, bantuan makanan dalam jumlah terbatas pernah diberikan pemerintah lokal.

Meski begitu, pengungsi terus waswas memikirkan rumah dan kebun yang mereka tinggalkan di Nduga.

“Umumnya satu keluarga ada yang bertahan di hutan untuk mengawasi rumah. Tapi karena konflik terlalu lama, makanan tidak ada, mereka pun jalan kaki ke Wamena atau Lanny Jaya,” kata Ence.

Kapan konflik senjata berakhir?

Sejak serangan terhadap pegawai Istaka Karya yang diikuti berbagai kontak tembak di Nduga, baik Kodam Cenderawasih maupun Polda Papua belum pernah mengumumkan penangkapan pelaku.

Sementara itu, seiring beragam baku tembak, pihak Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-OPM menyatakan niat terus memerangi aparat keamanan Indonesia demi tuntutan kemerdekaan.

Merujuk keterangan Kolonel Muhammad Aidi, di Nduga saat ini hanya terdapat satu pos polisi dan koramil dengan personel masing-masing 20 orang.

Dalam waktu dekat, kata Aidi, Kodam Cenderawasih akan membuka komando distrik militer di Nduga. “Ini untuk menjamin kehadiran negara di sana,” ucapnya.

 

 

Sumber : Viva

Editor : Bhuwananda login by Polda Jateng