Begini Respon Pengelola Tol Pejagan-Pemalang Soal ‘Lockdown’ di Tegal yang Berakhir 30 Juli 2020

bhinnekanusantara.id – Baru-baru ini Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal memutuskan untuk menutup total akses ke wilayahnya ( lockdown) selama empat bulan ke depan.

Itu berarti local lockdown ini akan diterapkan pada 30 Maret 2020 dan berakhir 30 Juli 2020.

Kepala Cabang Pejagan-Pemalang Tol Road (PPTR), Ian Dwinanto, pihaknya saat ini tengah menunggu koordinasi dengan Polres Tegal dan Polresta Tegal. Rencananya, akses keluar masuk tol tetap dibuka bagi kendaraan yang mengarah ke Slawi, Kabupaten Tegal.

“Iya sementara rencananya kalau yang ditutup pintu tol di Adiwerna yang mengarah ke Kota Tegal. Sementara untuk kendaraan yang ke Slawi atau ke arah Purwokerto tetap dibuka. Tapi kita kita masih lakukan koordinasi di lantas Polres,” jelas Ian, Sabtu (28/3/2020).

Selain itu, meski ada lockdown, pengelola jalan tol rencananya juga akan tetap buka akses kendaraan yang masuk ke jalan tol dari arah Kota Tegal.

“Kalau yang mau masuk dari Tegal ke tol masih akan dibuka,” ujar Ian.

Menurut dia, sejak diberlakukan status darurat corona, membuat trafik kendaraan yang masuk ke Tol Pejagan-Pemalang merosot.

Penurunan paling terasa setelah banyak perusahaan memberlakukan work from home (WFH).

“Penurunannya (kendaraan) drastis di tol, 20 sampai 30 persen. Sepi banget. Ini saja rest areanya sepi banget,” ungkap Ian.

Sebelumnya, Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono mengatakan akses jalan protokol di dalam kota dan jalan penghubung antar kampung akan ditutup menggunakan beton. Langkah ini ditempuh untuk mencegah penyebaran corona.

Kota Tegal sendiri saat ini berstatus zona merah darurat corona ada pasien positif corona yang meninggal dunia.

“Pemblokiran jalan, dan pemadaman lampu jalan protokol seluruh kota di malam hari akan diberlakukan misal di jam banyak masyarakat masih berkumpul. Keputusan ini dilematis namun warga harus bisa memahami karena ini untuk kebaikan kita semua,” kata Dedy.

Dedy berujar, pihaknya lebih baik melakukan langkah lockdown demi keselamatan warganya meski secara ekonomi, langkah tersebut bisa merugikan.

“Warga harus bisa memahami kebijakan yang saya ambil. Kalau saya bisa memilih, lebih baik saya dibenci warga daripada maut menjemput mereka,” kata dia.

Sementara untuk membantu mencukupi kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah selama kebijakan itu diterapkan, ia mengaku sudah menyiapkan skema bantuan sosial.

“Saya pribadi termasuk seluruh anggota legislatif agar bersama-sama dengan kesadaran untuk inisiatif secara pribadi membantu mengumpulkan dana,” kata Dedy.

Sementara hingga Kamis (26/3/2020) Dinas Kesehatan Kota Tegal mencatat ada 41 Orang Dalam Pemantauan (ODP), 13 Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang dirawat di rumah sakit Kota Tegal, 1 orang PDP meninggal dunia, dan 1 positif Covid-19.

 

editor : dealova @polda jateng

#agussaibumi