BPBD Pastikan Mitigasi di Kota Magelang Berjalan Walau Ancaman Bencana Rendah
MAGELANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Magelang menyatakan meskipun secara umum kondisi kebencanaan di Kota Magelang tergolong ringan, pemerintah kota setempat tetap mengupayakan mitigas terus-menerus secara menyeluruh.
“Kami rutin mengadakan sosialisasi di seluruh kelurahan, di rusunawa (rumah susun sederhana sewa), serta membentuk Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di sekolah-sekolah. Kita juga berkoordinasi dengan Kabupaten Magelang, terutama terkait aktivitas Gunung Merapi,” kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Kota Magelang Machbub Yani Arfian dalam rilis Bagian Prokompim Pemkot Magelang di Magelang, Senin.
Pemerintah Kota Magelang menggelar Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana 2025 di Halaman Markas Polres Magelang Kota berkaitan dengan puncak musim hujan di daerah setempat, sebagai simbol komitmen bersama berbagai elemen, antara lain pemerintah kota, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat, memperkuat koordinasi menghadapi potensi bencana.
Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana 2025 Kota Magelang, antara lain dihadiri Kapolres Magelang Kota AKBP Anita Indah Setyaningrum, Dandim 0705/Magelang Letkol Inf Afrizal Rakhman, dan Ketua DPRD Kota Magelang Evin Septa Haryanto Kamil.
“Potensi bencana bisa terjadi di mana-mana. Tapi alhamdulillah di Kota Magelang ini, paling sering hanya angin kencang atau genangan air, belum sampai kategori bencana besar,” ujarnya.
Sepanjang tahun lalu, katanya, jumlah kejadian yang ditangani BPBD setempat tidak sampai 50 kasus. Hal itu pun cenderung berupa kejadian kecil dan belum termasuk kategori bencana.
Meski demikian, kata dia, upaya mitigasi terus dilakukan secara menyeluruh oleh pemkot setempat.
BPBD Kota Magelang berkomitmen menjaga sinergi dengan berbagai pihak agar masyarakat tetap tenang namun waspada karena bencana tidak mengenal waktu.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menekankan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor di tengah peningkatan curah hujan.
Berdasarkan data BMKG, curah hujan di Kota Magelang rata-rata 300 milimeter per bulan dengan intensitas diperkirakan meningkat hingga Januari mendatang.
Dia mengatakan topografi Kota Magelang yang berbukit dan dikelilingi daerah berlereng, termasuk Gunung Tidar, sebagai rawan terhadap dampak hujan lebat, angin kencang, genangan air, dan longsor.
Ia mengatakan penanggulangan bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tugas bersama.
“Keberhasilan kita sangat bergantung pada koordinasi yang solid dan komunikasi cepat antarinstansi. Jangan menunggu bencana baru bergerak,” katanya.
Ia mendorong langkah-langkah mitigasi, seperti pemangkasan pohon berisiko tumbang, pembersihan saluran air, dan penguatan sistem deteksi dini.
Damar berharap, masyarakat aktif menjaga lingkungan agar risiko bencana dapat ditekan sedini mungkin.
“Budayakan pola pikir siaga sebelum bencana, tanggap saat bencana, dan cepat pulih setelah bencana,” katanya.