Bukan Manusia, Tapi Pahlawan: Kisah Reno Anjing K9 Polda Riau
Pekanbaru - Pekanbaru terasa lebih hening sekaligus hangat pada Minggu pagi, 1 Februari 2026. Di tengah hiruk-pikuk Car Free Day di Jalan Cut Nyak Dien, langkah kaki manusia dan hewan peliharaan berjalan beriringan dalam satu tujuan: mengenang Reno.
Reno bukan tokoh publik, bukan pula manusia. Ia adalah anjing pelacak K9 Direktorat Samapta Polda Riau. Namun pagi itu, namanya disebut dengan penuh hormat—Reno, Pahlawan Kemanusiaan.
Melalui kegiatan Pet Parade bertema “Jejak Menapak, Setia Waspada, Reno Sang Pahlawan Kemanusiaan”, Polda Riau memberikan penghormatan atas dedikasi Reno yang gugur saat menjalankan tugas kemanusiaan pada 30 November 2025 di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.
Foto Reno terpampang di area kegiatan, mengingatkan publik bahwa pengabdian tidak selalu datang dari mereka yang bisa berbicara, namun dari mereka yang setia bekerja dalam senyap.
Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menyebut Reno bukan sekadar aset kepolisian, melainkan bagian dari keluarga besar Polda Riau. Baginya, Reno telah mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan paling hakiki: loyalitas, kesetiaan, dan pengabdian tanpa pamrih.
“Reno memberi contoh nyata tentang loyalitas dan kesetiaan. Ia bekerja tanpa pamrih, tanpa menuntut penghargaan. Selama bertugas, imbalannya hanya makanan, tetapi dedikasinya luar biasa dan tulus,” ujar Irjen Herry.
Ia mengenang saat Reno menjadi satu-satunya andalan di lokasi tugas sebelum bantuan lain tiba. Dalam keterbatasan itu, Reno hadir dan memberi kontribusi nyata yang menyentuh sisi kemanusiaan.
“Pada saat itu, Reno menjadi tumpuan kami. Kontribusinya sangat nyata,” ungkapnya.
Irjen Herry menegaskan bahwa nilai-nilai yang diwariskan Reno harus menjadi teladan, tidak hanya bagi personel Polri, tetapi juga masyarakat luas.
“Makna loyalitas dan kesetiaan ini harus kita tiru. Bekerja dengan sungguh-sungguh, tidak saling menjatuhkan, dan tidak memanfaatkan kelemahan satu sama lain,” tegasnya.
Sebagai bentuk penghargaan negara, Reno akan menerima penghargaan resmi dari Kapolri yang rencananya diserahkan secara formal dalam waktu dekat. Penghargaan tersebut menjadi simbol bahwa pengabdian, dalam bentuk apa pun, layak mendapat pengakuan.
Pet Parade pun menjadi ruang refleksi kolektif. Kapolda Riau bersama pejabat utama Polda Riau, pengurus Indonesia Cat Association (ICA), komunitas pecinta hewan, serta masyarakat umum berjalan berdampingan. Parade diawali pasukan berkuda, diikuti anjing, kucing, hingga berbagai hewan peliharaan lainnya—simbol bahwa kepedulian dan empati melampaui batas spesies.
Di hadapan masyarakat, Irjen Herry juga menyampaikan pesan kepedulian lingkungan, sejalan dengan semangat Green Policing yang diusung Polda Riau.
“Lingkungan harus kita jaga bersama agar Riau lebih hijau, lebih bersih, dan menjadi paru-paru dunia, bebas dari stigma daerah penghasil asap,” katanya.
Presiden Indonesia Cat Association (ICA), Russy Idrus, menilai Pet Parade sebagai langkah visioner yang layak menjadi contoh nasional.
“Bukan hanya kucing, tetapi juga anjing, kuda, ular, hingga satwa lainnya. Semua punya peran dalam kehidupan manusia dan ekosistem. Kegiatan seperti ini patut diapresiasi,” ujarnya.
ICA, lanjut Russy, siap berkolaborasi mendukung program Polda Riau yang berorientasi pada kepedulian satwa, lingkungan, dan kemanusiaan.
“Kami percaya sinergi ini akan membawa dampak positif. Dengan komitmen bersama, tujuan Green Policing untuk generasi mendatang dapat terwujud,” ucapnya.
Kegiatan ditutup dengan atraksi anjing K9 memperagakan kemampuan mendeteksi narkotika serta lomba makan lahap kucing yang mengundang tawa pengunjung. Namun di balik keceriaan itu, satu pesan tertinggal kuat: pengabdian sejati tidak selalu bersuara, tetapi jejaknya abadi.