Buntut Ribut di Acara Hajatan, Massa 2 Perguruan Silat Nyaris Bentrok

bhinnekanusantara.id – Dua massa dari perguruan silat nyaris bentrok di sejumlah wilayah di Sragen pada Jumat (27/3) malam. Sekitar 3.000 massa dari kedua belah pihak perguruan silat berkerumun dan unjuk kekuatan. Beruntung, ketegangan bisa diredam pihak kepolisian dan situasi baru kondusif Sabtu (28/3) pukul 04.00.

Berdasarkan pantauan dan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Solo, wilayah Kecamatan Mondokan dijaga ketat anggota TNI dan Polri. Anggota berjaga-jaga di setiap jalur menuju Mondokan, mulai wilayah Tanon, Sukodono, Jembatan Sapen, dan Sumberlawang. Aparat disiagakan sejak pukul 21.00. Sementara banyak massa dari salah satu perguruan silat berkumpul di ring road utara Sragen.

Pjs Kasubag Humas Polres Sragen AKP Harno mewakili Kapolres Sragen AKBP Raphael Shandy Cahya Priyambodo menyampaikan, situasi baru berjalan kondusif pukul 04.00. Pihaknya menegaskan, ada sekitar 3.000 massa dari kedua belah pihak yang hendak adu kekuatan. Beruntung, ketegangan bisa ditekan dan tak sampai terjadi bentrok adu fisik.

”Tidak ada bentrokan, tidak sampai terjadi. Yang ada pengerusakan lambang perguruan dari kedua belah pihak,” terang Harno.

Jumlah lambang perguruan yang rusak belum ditotal. Harno menyampaikan, ada wacana untuk mempertemukan kedua pengurus perguruan silat guna mencari solusi terbaik.

”Memang sulit kalau sudah psikologi massa susah dikendalikan. Harusnya pucuk pimpinan yang turun mengendalikan dan memberi imbauan pada adik-adiknya,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Cabang Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKS PI) Sragen Waluyo menyampaikan, akar permasalahan tersebut diawali adanya keributan di sebuah acara di wilayah Kecamatan Mondokan. ”Kami kurang tahu awalnya, namun masalah di acara hiburan itu akhirnya merembet,” terang Waluyo.

Disebutkan Waluto, setidaknya ada enam titik lambang perguruan IKS PI yang dirusak. ”Sejak kemarin sudah saya sampaikan di grup, tidak perlu IKS lain masuk ke wilayah Sragen. Dari teman-teman IKS sudah menahan diri,” ujarnya.

Ditambahkan dia, banyak anggota IKS PI yang dikawal kepolisian dari Sragen ke Mondokan. Menurut Waluyo, para anggotanya mengaku tidak melakukan pengrusakan tugu PSHT. Namun, faktanya ada tugu dari PSHT yang rusak.

”Hari ini tadi ranting IKS Sukodono saya minta memperbaiki tugu PSHT Sukodono yang rusak. Yang jelas, harapan kami tidak terjadi sesuatu yang diinginkan.Harapan kami kondisi Sragen tetap kondusif,” ujarnya.

Di sisi lain, Ketua Cabang Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Sragen Jumbadi menyampaikan, dia sudah memerintahkan agar tidak ada pergerakan anggota PSHT, baik dari Sragen atau kabupaten sekitar.

”kami melaksanaan maklumat dari kapolri untuk tidak bergerombol. Dan saya sudah izin kapolres untuk mengumpulkan pengurus dari ranting dan cabang untuk pengarahan,” ujarnya.

Diakui dia, jumlah total tugu PSHT yang rusak belum dihitung. Namun ada di beberapa wilayah, seperti Sukodono, Sine, dan Sidoharjo.

Jumbadi berharap kepolisian menjembatani koordinasi antara IKS PI dengan PSHT. Dia mendengar permasalahan awal perusakan sejumlah tugu ini akibat keributan di sebuah hajatan di Desa Gumantar, Kecamatan Mondokan.

 

editor : dealova @polda jateng

#agussaibumi