Ciptakan Kerajaan Palsu, Segini Modal ‘Raja’ Bangun Keraton Agung Sejagat

bhinnekanusantara.id – Kemunculan Keraton Agung Sejagat yang terbongkar beberapa waktu lalu cukup menggemparkan masyarakat Indonesia. Pasalnya, Keraton tersebut telah mengklaim kekuasaan seluruh negara di dunia dan mengaku memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Majapahit.

Kini Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat yakni Toto Santoso dan Fanni Imanadia telah ditangkap kepolisian. Keduanya telah dijadikan tersangka dan sedang diusut oleh Polda Jawa Tengah terkait dugaan kasus kabar bohong.

Perlahan-lahan, fakta tentang Keraton Agung Sejagat mulai terkuak. Salah satunya adalah terkait biaya pembangunan Keraton Agung Sejagat yang terletak di Desa Pogung Jurutengah, Kabupaten Purworejo.

Kepolisian Daerah Jawa Tengah (Polda Jateng) mengungkapkan jika bangunan Keraton Agung Sejagat hanyalah bangunan abal-abal. Pasalnya, bangunan tersebut bukanlah bangunan tua layaknya sejarah yang digembar-gemborkan Raja Keraton Agung Sejagat.

Diketahui, bangunan kerajaan fiktif tersebut merupakan bangunan lama. Polda Jateng menjelaskan jika sang raja yaitu Toto mengeluarkan dana sebesar Rp500 juta untuk membangun Keraton Agung Sejagat.

Dana tersebut digunakan untuk membuat batu prasasti, kolam pemandian, pendopo, pagar dan lain sebagainya. Meski telah mengeluarkan uang ratusan juta, namun ternyata proses pembangunan Keraton Agung Sejagat itu sendiri masih belum selesai.

“Bangunan itu ternyata adalah bangunan baru, bukan bangunan lama. Di dalamnya ada batu prasasti, kolam pemandian, pendopo, pagar dan lain sebagainya,” kata Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah, Pol Iskandar Fitriana pada Kamis (23/1). “Biaya ditaksir sudah Rp500 juta. Ini belum selesai lho.”

Iskandar menjelaskan jika kolam pemandian suci yang dibangun tersebut telah dikeramatkan dan sempat digunakan raja, ratu maupun para pengikutnya. Diketahui, pemandian tersebut digunakan untuk melakukan ritual-ritual tertentu dengan taburan bunga setiap tanggal Kliwon.

“Ternyata kolam pemandian di keraton ini sudah dipergunakan,” ungkap Iskandar. “Setiap Kliwon, dengan ritual ritual tertentu dengan taburan bunga di atas kolamnya.”

Selain itu, penyelidikan juga mengungkapkan jika Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat telah menyewa beberapa kuda milik masyarakat. “Setelah kita telusuri, ternyata mereka juga menyewa kuda, per ekor kuda dibayar Rp500 ribu. Jadi bukan punya sendiri,” imbuh Iskandar.

 

editor : dealova @polda jateng

#agussaibumi