Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo-Pemali Juana-Bogowonto di Jateng Rawan Banjir Besar

bhinnekanusantara.id – Banjir besar seperti di Jabodetabek, Lebak, dan Jawa Barat berpotensi terjadi di kawasan Jawa Tengah jika tak segera diantisipasi. Setidaknya ada daerah aliran tiga sungai besar yang rawan banjir, yaitu Sungai Bengawan Solo, Sungai Pemali Juana, dan Sungai Bogowonto.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Pemprov Jateng, Sarwa Pramana mengatakan hal tersebut karena menurut data BMKG puncak penghujan akan terjadi pada Januari-Februari. Dalam kurun waktu tersebut curah hujan diperkirakan mencapai 500 mm.

“Wilayah yang rawan mengalami banjir besar jika tiga sungai besar itu meluap adalah Solo Raya, Pati, Purworejo, Cilacap, Demak, Kudus, dan Jepara,” katanya, Sabtu (4/1/2020).

Dia mengatakan peralatan yang dimiliki Pemprov Jateng belum bisa mengantisipasi banjir besar dalam waktu bersamaan. Sehingga dia mengusulkan agar pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten mulai merancang rencana mitigasi bencana.

“Saya kira pemerintah bisa memanfaatkan kearifan lokal. Seperti menyiapkan rakit, bisa dari kayu atau pelepah pisang. Selain itu juga menyiapkan ban dalam truk yang telah dipompa. Saat terjadi banjir, itu bisa dibagikan,” ucap Sarwa.

Sarwa juga mengusulkan agar pemerintah melibatkan perahu nelayan untuk melakukan evakuasi jika terjadi banjir besar. Komunikasi dengan nelayan menurutnya bisa segera dilakukan.

Selain itu dia juga meminta pemerintah segera mengidentifikasi tempat-tempat yang bisa dimanfaatkan sebagai pengungsian sementara. Seperti balai desa, aula, dan gelanggang olahraga.

“Kami juga sedang waspada tanggul jebol. Teman-teman BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) sudah mengidentifikasi. Kalau tanggul meluap, masih tidak masalah. Yang bahaya tanggul jebol karena akan terjadi banjir bandang. Selain itu bukit yang gundul. Bisa terjun bebas, terjadi banjir bah campur batu dan lumpur,” katanya.

Di daerah rawan tersebut, dia juga mengatakan perlu dilakukan siskamling sebagai kearifan lokal. “Ketika ada tanda-tanda terjadi longsor, bisa langsung diumumkan menggunakan kentongan,” ujarnya. (saibumi)

 

sumber : Inews.id