oleh

Ditemukan lagi WNA Masuk DPT di Sleman

bhinnekanusantara.id – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, kembali menemukan data tiga warga negara asing (WNA) yang masuk ke dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2019 di Kabupaten Sleman.

Ketiganya adalah Abigail Florence Lang, Swen, dan Kevin James Major. Menurut Ketua Bawaslu Sleman, Abdul Karim Mustofa, sebelumnya temuan dari Bawaslu RI menyebutkan nama Yokosuka Tomomi, “Jadi total, sudah ada empat WNA yang indikasi masuk DPT di Sleman,” katanya.

Dikatakan, Abigail, Swen dan Kevin, masuk DPT di Kecamatan Ngaglik. Sedangkan Yokosuka Tomomi masuk DPT di Kecamatan Berbah.

“Hasil penelusuran lainnya dari 32 nama (diduga WNA), ternyata 16 nama berstatus WNI dan 12 belum terklarifikasi karena tidak di tempat, pindah alamat dan tidak ditemukan di SIAK kecamatan,” ujar dia.

Selain itu, 165 nama yang terindikasi WNA masuk DPT Pemilu 2019 di Kabupaten Sleman masih terus ditelusuri, tetapi menurut Abdul Karim, belum tentu nama-nama yang tercantum benar WNA, sebab banyak WNI yang memiliki nama asing. “Kami juga meminta KPU Sleman segera menindaklanjuti temuan itu,” ujar Karim.

Sementara itu, Ketua KPU Sleman Trapsi Haryadi mengatakan, pihaknya menunggu rekomendasi dari Bawaslu terkait dengan temuan tersebut.

“Kami sudah mencoret Yokosuka Tomomi, tiga nama berikutnya masih menyusul,” ujarnya.

Terpisah, Ketua KPU DIY, Hamdan Kurniawan menyampaikan pihaknya akan mengedepankan prinsip kehati-hatian ketika akan mencoret WNA dari DPT yang telah ditetapkan sejak Desember 2018 lalu. Pencoretan terhadap DPT, perlu klarifikasi terlebih dahulu.

“Kami tidak bisa sembarangan mencoret orang, harus ekstra hati-hati. Kalau WNA sudah jadi WNI, tentu tidak dicoret karena dia punya hak pilih, tetapi kalau dia benar WNA, maka tidak punya hak pilih,” katanya.

KPU DIY sudah meminta KPU Kabupaten/Kota untuk melakukan pengecekan terlebih dahulu, kalau ditemukan WNA, ada dalam DPT kita selaku penyelenggara harus klarifikasi dulu, verifikasi apakah benar atau tidak. “Lihat secara langsung e-KTP WNA-nya, kemudian kalau sudah terbukti ya dicoret, kemudian dibuatkan berita acara,” tegasnya.

Lebih lanjut, Hamdan menyampaikan jika ketika memang WNA tersebut terbukti masuk dalam pemilih Tidak Memenuhi Syarat (TMS), maka akan dicoret dan diberikan keterangan bahwa yang bersangkutan TMS.

Hamdan menyampaikan jika sebelumnya dari KPU RI sudah menemukan sebanyak 103 WNA yang masuk dalam daftar pemilih di Indonesia.

Untuk Yogyakarta sendiri sebanyak tiga WNA, dimana hal tersebut tidak termasuk dalam temuan Bawaslu DIY yang menemukan 11 WNA dan satu WNA yang ternyata sudah menjadi WNI.

Sementara itu, 298 nama pemilih di Bantul dicoret dari DPT oleh KPU setempat, belum termasuk delapan warga negara asing (WNA) yang baru dicoret pada awal bulan ini.

Ketua KPU Bantul, Didik Joko Nugroho mengatakan pencoretan DPT dilakukan berdasar hasil perbaikan data. Pemilih yang dicoret, dianggap tidak memenuhi syarat sebagai pemilih, seperti masih aktif sebagai TNI-Polri serta pemilih yang ternyata sudah meninggal dunia.

Didik mengatakan data pemilih yang tidak memenuhi syarat tersebut bisa masuk karena saat penetapan DPT masih memenuhi syarat. Misalnya saat didata pemilih belum terdaftar sebagai anggota Polri, namun saat ini sudah diterima sebagai anggota Polri, sehingga hak pilihnya otomatis hilang dan harus dicoret dari DPT. “Namun sebagian besar DPT yang dicoret adalah karena meninggal dunia,” ujar dia.

Meski ada pencoretan, jumlah pemilih yang tidak memenuhi syarat itu tetap masuk hitungan jumlah surat suara karena pencetakan surat suara, berdasar DPT yang sudah ditetapkan Desember tahun lalu ditambah daftar pemilih tambahan (DPTb) yang ditetapkan 17 Februari 2019.

Diketahui, per Desember 2018 DPT Bantul sebanyak 707.009 jiwa. Sementara daftar pemilih tambahan sesuai formulir A5 yang dikeluarkan KPU Bantul sebanyak 5.757 lembar.

 

 

Sumber : Berita Satu

Editor : Meymey login by Polda Jateng