Ditreskrimsus Polda Jateng bagikan Air Besih di Kab. Grobogan

bhinnekanusantara.id – Sejumlah wilayah di Kabupaten Grobogan terus mengalami kekeringan.

Kekeringan terparah dialami di Dusun Selo Kromo, Desa Nglobar, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan.

Sejumlah warga Selo Kromo mengaku perihal sulitnya ketersediaan air terhitung 5 bulan terakhir.

Bahkan, mereka juga menyebutkan dari total 200 KK yang ada, tak lebih dari 20 sumur saja yang masih mengeluarkan air itupun tak seberapa.

Seorang warga Selo Kromo, Purwoto (59) mengatakan kekeringan yang dialami para warga di tempatnya sudah menjadi rutinitas tiap tahunnya.

Akan tetapi, ia menyebutkan kekeringan kali ini menjadi salah satu yang besar dalam beberapa tahun terakhir.

Mampetnya sumber air yang ada di sumur masing–masing rumah nampaknya sudah dirasakan sejak lima bulan yang lalu.

Kala itu mereka masih bergantung pada sumber air dari sungai Lusi untuk mencukupi kebutuhan air setiap hari.

“Saat itu hanya bertahan 2 bulan saja, sungai kemudian kering menyisakan pasir saja.

Yah meski masih ada beberapa sumur yang mengeluarkan air, namun jumlahnya sangat sedikit,” terangnya, Jumat

Menyikapi hal tersebut, Purwoto bersama warga lain lantas memesan sejumlah air dari pegunungan guna mencukupi kebutuhan sehari–hari.

Dalam setiap pemesanan, Purwoto dan juga warga harus menunggu antrean hingga 4–5 hari.

Dalam setiap pesan, warga biasa memesan 2 tangki air dengan isi sekitar 5000 liter seharga Rp 120 ribu yang ditampung di sumur kering cukup mengcover kebutuhan air untuk keluarganya selama 2 minggu.

Hal tersebut belum termasuk kebutuhan meminumkan hewan ternak (sapi) dan juga mengairi tananamnya.

Adapun untuk mengairi tanaman, seperti jagung, padi dan beberapa tanaman lain, mereka diperbantukan adanya 2 buah sumur milik warga dengan kedalaman 87 meter yang tak kering hingga saat ini.

Namun air sumur tersebut terasa sedikit asin dan tidak layak untuk minum ataupun masak.

Prosedurnya, satu sumur diberikan (disodakohkan) cuma–cuma kepada warga sedangkan satu sumur yang lain dipatok dengan harga Rp 500 per panggul atau setara dengan 2 dirigen.

“Kalau sedot untuk mengairi sawah perjamnya dipatok Rp 12.500.

Biasanya sampai 20–an jam.

Sedangkan untuk minum biasa pakai beli air galon dengan harga Rp 4000 per galonnya (dirigen),” lanjutnya.

Ia juga menuturkan bahwa tak kurang dari 3 kali bantuan air sudah datang ke tempatnya.

Namun dirinya tetap bersyukur manakala kebutuhan air sehari–harinya masih bisa ia usahakan semaksimal mungkin.

“Selain dampak pada kebutuhan sehari–hari juga otomatis berdampak pada hasil panen.

Paling hanya 60 persen saja kita bisa ngunduh (panen) tiap masanya. Lumayan,” tambahnya.

Dirreskrimsus Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Moh Hendra, menyampaikan upaya sosial tersebut semata–mata guna membantu warga yang membutuhkan air agar tercukupi kebutuhannya.

“Alhamdulillah kita sebagai warga Negara Indonesia ada rasa peduli terhadap masyarakat daerah kekeringan.

Kini sudah dipetakan di Jawa Tengah dengan kemarau ini cukup panjang.

Dan hari ini ada 4 Desa yakni Nglobar, Watu Karanganyar, Grobogan dan Karangrejo dengan jumlah 9 tangki air berkapasitas total 36.000 liter,” tuturnya.

Ia juga berharap kegiatan peduli terhadap warga itu akan terus berlanjut hingga ke daerah–daerah lain di Jawa Tengah yang sekiranya membutuhkan suplay air bersih.

“Jadi kurang lebih ada 8 kabupaten/kota yang sudah tersuplay.

In sha Allah ke depan akan berlanjut ke daerah–daerah lain yang membutuhkan bekerjasama dengan polrestabes.

Mudah mudahan yang sekedar ini bisa bermanfaat. Semoga diterima dengan baik,” pungkasnya.

 

sumber : humas polda jateng

editor : saibumi @polda jateng #polres rembang

Silakan berkomentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.