Future Mind Indonesia dalam Refleksi Setahun Prabowo–Gibran: Pemuda Harus Jadi Penentu Arah Bangsa

Future Mind Indonesia dalam Refleksi Setahun Prabowo–Gibran: Pemuda Harus Jadi Penentu Arah Bangsa

JAKARTA – Future Mind Indonesia menggelar diskusi publik bertajuk “The Future Generation: Saatnya Anak Muda Mengisi Ruang Publik dan Menentukan Arah Bangsa” dalam rangka refleksi satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Acara yang dikemas dalam forum Future Talk ini menghadirkan sejumlah pembicara muda lintas kampus dan organisasi.

Kegiatan ini diinisiasi sebagai ruang dialog terbuka bagi generasi muda untuk membicarakan tantangan dan peluang dalam mengisi ruang publik. Dalam satu dekade terakhir, transformasi sosial, politik, dan ekonomi berjalan cepat seiring kemajuan teknologi dan dinamika global. Kondisi itu menuntut generasi muda agar lebih adaptif, inovatif, dan berintegritas dalam menentukan arah bangsa.

“Bonus demografi ini peluang besar, tapi juga tanggung jawab besar. Pemuda tidak boleh hanya jadi pengamat, tapi harus hadir sebagai aktor perubahan,” demikian semangat yang diusung dalam forum tersebut.

Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center Asia, Zainal A. Budiyono, membuka sesi dengan paparan bertema “Kepemimpinan Transformasional di Era Baru: Tantangan Global dan Arah Strategis Generasi Muda Indonesia.”

Zainal menilai, di tengah disrupsi teknologi dan ketegangan geopolitik dunia, pemuda Indonesia perlu tampil sebagai pemimpin transformasional—bukan hanya pandai berwacana, tapi mampu membangun sistem dan jejaring lintas sektor.

“Pemuda harus jadi policy entrepreneur—pencipta solusi, bukan sekadar pengamat kebijakan,” tegasnya. Ia menekankan pentingnya literasi geopolitik dan ekonomi global agar pemuda bisa memperjuangkan kepentingan nasional di forum internasional.

Menurutnya, tiga nilai utama harus melekat pada kepemimpinan muda: visi, inovasi, dan kolaborasi. Dengan itu, generasi muda diyakini mampu mendorong Indonesia menuju era Emas 2045 yang mandiri dan berdaya saing global.

Sesi berikutnya diisi oleh Rheynald R. Parlaungan, Ketua HIMAKUM Universitas Nasional, yang mengangkat topik “Hukum dan Keadilan Sosial: Tantangan Pemuda dalam Mengawal Pemerintahan yang Berintegritas.”

Rheynald menegaskan bahwa hukum adalah fondasi moral bangsa. Ia menyoroti masih maraknya praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang menggerus kepercayaan publik.

“Pemuda punya tanggung jawab moral untuk mengawal agar pemerintahan tetap di jalur keadilan,” ujarnya.

Ia mendorong generasi muda agar tidak berhenti pada kritik, tapi turut menghadirkan solusi—mulai dari riset hukum berbasis data, advokasi publik, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk pemantauan kebijakan.

“Integritas bukan hanya nilai moral, tapi strategi politik jangka panjang,” tambahnya.

Dari perspektif politik, Cleorisa Cheguevara, Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Nasional, membahas tema “Keterlibatan Politik Pemuda di Era Digital: Antara Partisipasi dan Polarisasi.”

Ia menilai, media sosial telah menjadi ruang baru bagi pemuda dalam berpolitik. Namun, ruang ini juga melahirkan tantangan berupa polarisasi dan disinformasi.

“Partisipasi digital harus produktif dan edukatif, bukan reaktif terhadap isu viral,” kata Cleorisa.

Ia menekankan pentingnya literasi digital agar pemuda mampu memilah informasi dan berdiskusi dengan data, bukan emosi. Ia juga mengingatkan bahaya polarisasi politik yang dapat merusak solidaritas nasional.

“Pemuda harus jadi penyeimbang dan penjaga etika politik,” ujarnya menutup.

Dari seluruh sesi, forum Future Talk menyimpulkan bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas keterlibatan generasi muda. Pemuda tidak boleh sekadar menjadi pengamat, tapi harus menjadi aktor perubahan yang berpikir kritis, kolaboratif, dan berorientasi masa depan.

“Future Mind Indonesia berhasil membuka ruang refleksi produktif yang menunjukkan kesiapan generasi muda untuk mengisi ruang publik dengan gagasan dan integritas,” kata salah satu panitia di akhir acara.

Forum ini menegaskan, empat fondasi utama pemuda Indonesia ke depan adalah kepemimpinan inklusif, transformasional, berintegritas, dan adaptif terhadap digitalisasi.

Dengan itu, generasi muda diharapkan menjadi motor perubahan menuju Indonesia Emas 2045 yang adil, tangguh, dan berdaya saing. (*)

Read more