oleh

Gus Nuril Imbau Masyarakat tetap Ikuti proses pemilu yang Berlangsung dan Menghormati Hasil Perhitungan KPU

bhinnekanusantara.id – Maraknya tuduhan kecurangan atas kinerja KPU terkait penyelenggaraan Pileg dan Pilpres 2019 ini, pengasuh Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Sokotunggal, Jakarta Timur, Nuril Arifin Husein atau akrab disapa Gus Nuril, mengingatkan kepada seluruh elemen untuk menghormati proses pemilu yang masih berlangsung.

“Semua pihak harus menghormati seluruh proses Pemilu, termasuk menunggu secara resmi proses penghitungan suara yang sedang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU),” katanya saat ditemui para wartawan di Pondok Soko Tunggal Sendangguwo Semarang pada Jum’at malam (10/05/19) .

Menurutnya, menang atau kalah dalam setiap konstestasi di sebuah negara demokrasi merupakan itu hal biasa.

“Kontestasi itu ada yang menang ada yang kalah. Bahwa Pak Jokowi pengin sekali lagi menjadi presiden dan Mas Prabowo ingin sekali-kali menjadi presiden. Itu biasa. Maka setelah KPU melaksanakan penghitungan itu, kita tunggu hasilnya,” tambahnya.

Gus Nuril juga mengingatkan agar elit politik tidak terus menerus melibatkan rakyat untuk memenuhi ambisi keinginan menjadi presiden. “Tolong jangan libatkan rakyat,biarkan rakyat menilai sendiri tidak usah di gurun.rakyat kita itu sudah cerdas sekarang. Saat ini, hasil hitung cepat atau quick count sudah ada dan masyarakat tinggal menunggu hasil real count,” ucapnya.

Gus Nuril menilai penyelenggaraan Pemilu di Indonesia adalah prestasi yang luar biasa karena telah di apresiasi oleh lebih dari 15 negara di dunia. beliau menegaskan tidak perlu ada people power, bangsa Indonesia harus menyadari bahwa KPU tidak dibentuk oleh Jokowi-Maruf atau Prabowo-Sandi tetapi dibentuk oleh kekuatan ketiga dari pilar Trias Politika yang bernama legislatif.

“People Power itu nek sampeyan terbelenggu kemerdekaan, kalau jaman orde baru dulu ada People Power masih kita terima karena beragama terkekang, kemerdekaan berfikir terkekang, bahkan kita kalau gosok gigi harus ke Singapure, sampai kandang burung saja harus di cat kuning. laa kalau sekarang mau people power yg mana? itu meluapkan kemarahan karena kekalahan. ini namanya tidak berjiwa besar.” tambahanya.

“Jangan sampai lembaga yang diberikan wewenang menyelenggarakan Pemilu malah terus-terusan dianggap sebagai pihak yang salah. Jangan kemudian dianggap sebagai lembaga yang salah karena KPU itu bukan presiden. KPU itu bukan presiden yang milih. KPU itu dipilih oleh rakyat sendiri. Diberikan kepercayaan. Dilindungi UU. Sudah cooling down semuanya. Tidak ada lagi 01 dan 02. Ayo, kita kembali lagi ke Pancasila, yang ada hanya 03 yakni persatuan Indonesia,” pungkasnya.

Kita harus menghargai banyak orang yang karena partisipasi kebangsaanya tinggi, semangat patriotismenya tinggi akhirnya meninggal dalam tugas saat pemilu maupun perhitungan suara. Korban-korban demokrasi  perlu kita apresiasi.

 

 

Sumber : GN

Editor : Kiss login by Polda Jateng

News Feed