oleh

Hari Jadi ke-74, Polwan RI Napak Tilas ke Bukittinggi

Jakarta – Polwan menggelar kegiatan napak tilas ke Bukittinggi, Sumatera Barat, dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-74 Polwan RI

“Terimakasih telah hadir di sini bersama-sama, mari kita terus tingkatkan soliditas untuk kita bangkit kembali,” kata Irjen Juansih, Sabtu (20/8).

Ia menjelaskan, kegiatan seperti ini yang diperlukan dalam menghadapi situasi seperti ini. Menurutnya, hal ini juga mengimplementasikan instruksi dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

“Sesuai dengan arahan bapak Kapolri kemarin perbanyak interaksi dengan Masyarakat, kegiatan-kegiatan yang dapat menyentuh supaya kita kembali merebut kepercayaan masyarakat untuk Polri dan Polwan dapat lebih besar lagi kontribusinya untuk mendukung polri memperoleh kepercayaan dari masyarakat yang sudah mulai meningkat ini,” ujarnya.

“Kita harus terus berupaya membantu polri dalam meraih kepercayaan masyarakat. Mudah-mudahan kita pahami semua, dan tetap semangat bagaimana polwan berkontribusi 25.700 orang seluruh indonesia, kita bergerak semua sesuai arahan bapak kapolri, bersama-sama masyarakat dalam bentuk kegiatan bantuan sosial atau kegiatan bakti religi membersihkan masjid, membersihkan gereja,” tambahnya.

Peringatan hari jadi ke-74 Polwan RI kali ini dilaksanakan di Monumen Polwan Bukittinggi. Juansih menuturkan, monumen ini dibangun diprakarsai oleh Kombes (purn) Koesbandiah dan Kombes (purn) Endang Yudana pada tahun 1993. Monumen ini menjadi kebanggaan Polwan dan juga mencadi icon pariwisata di Bukittinggi yang memang menjadi kota pariwisata.

“Karena kondisinya dari tahun 2015 sudah mulai kurang bagus. Sehingga perlu ada nya perbaikan dan juga ada inisiatif dari ibu asuh Polwan RI pada waktu itu Ibu Badrodin Haiti disampaikan pada ibu Apri bagaimana polwan memperbaiki icon polwan pada 2015,” ucapnya.

Sementara itu, Wakapolda Sumbar Brigjen Edi Mardianto menuturkan, Polwan di Indonesia lahir pada 1 September 1948 berawal dari kota Bukittinggi, tatkala pemerintah darurat Republik Indonesia menghadapi agresi militer Belanda kedua.

“Disaat terjadinya pengungsian besar-besaran meliputi pria, wanita dan anak-anak meninggalkan rumah meraka untuk menjauhi titik peperangan untuk mencegah terjadinya penyusupan dan para pengungsi harus di periksa oleh polisi, namun para pengungsi wanita tidak mau di periksa apa bila digeledah secara fisik oleh polisi pria,” jelasnya.

Untuk mengatasi masalah tersebut Pemerintah Indonesia menunjuk SPN Bukittinggi untuk membuka pendidikan inspektur polisi bagi kaum wanita, setelah melalui seleksi terpilihnya enam orang gadis remaja yang berdarah Minangkabau dan juga berasal dari tanah minang.

“Mulai mengikuti pendidikan inspektur polisi di SPN Bukittinggi, sejak saat itulah dinyatakan lahir polisi wanita yang akan di panggil polwan, tugas polwan di Indonesia terus berkembang tidak hanya menyangkut masalah kejahatan wanita, tapi juga meliputi kasus-kasus anak-anak dan remaja hinggga bahkan sampai ke narkotika kenakalan anak-anak dan remaja, kasus perkelahian antara pelajar yang terus meningkat dan kasus kejahatan wanita yang memperihatinkan di masa ini adalah tantangan amat serius pospol polwan untuk lebih berperan dan membuktikan eksitensinya di tubuh polri,” tutupnya.