JAKARTA – Sunanto menilai informasi bohong merusak demokrasi Indonesia. Informasi bohong seharusnya ditiadakan.

“Saya kira hoaks dan hate speech (ujaran kebencian) bukan lagi sebuah praktik demokrasi tapi kejahataan demokrasi,” kata Sunanto, Sabtu (13/07/2024).

Sunanto menegaskan berita bohong harus ditiadakan. Sebab, bukan hanya dapat memanipulasi demokrasi tapi juga melenyapkan demokrasi.

“Membuat kedaulatan rakyat tidak terwujud. Ini yang tidak boleh kita biarkan,” tandas dia.

Ujaran kebencian dan informasi bohong, diyakini Sunanto, merupakan perilaku seseorang untuk memenangkan sesuatu. Dengan kebohongan yang diperbuatnya dapat memengaruhi masyarakat.

“Memanfaatkan situasi masyarakat yang emosional dan menggunakan teknologi informasi (dalam penyebaran informasi bohong). Bahayanya adalah dia memanipulasi demokrasi,” ucap dia.

Lebih lanjut, Sunanto menjelaskan ada dua kategori berita bohong. Pertama misinformasi dan disinformasi.

Misinformasi terjadi ketika seseorang menerima informasi dan meyakini informasi itu benar padahal tidak benar. Tapi dia tetap meyakini itu benar dan menyebarkan informasi itu.

Sedangkan disinformasi adalah sebuah informasi yang sudah tahu salah tapi sengaja disebarkan untuk mendapatkan benefit lectoral. “Nah, hoaks itu lebih tepat pada disinformasi,” tutur dia.(*)