Imigrasi untuk Rakyat: Dedikasi Sejati yang Berangkat dari Panggilan Nurani

Imigrasi untuk Rakyat: Dedikasi Sejati yang Berangkat dari Panggilan Nurani

Imigrasi untuk Rakyat!” Seruan Dirjen Imigrasi Hendarsam Marantoko ini bukan sekadar slogan. Ia adalah deklarasi filosofis yang mengembalikan profesi keimigrasian pada hakikatnya: pelayan publik, bukan penguasa prosedur.

Dalam Etika Profesi hakikat profesi berdiri di atas tiga pilar: kompetensi, kontribusi, dan komitmen moral. Kebijakan baru ini memperkuat ketiganya sekaligus.

Kompetensi dituntut meningkat drastis. Era digital dengan sistem All Indonesia, autogate, dan integrasi data lintas kementerian memaksa insan imigrasi tidak sekadar “tahu aturan” (knowing), tapi mahir bertindak (doing) menganalisis risiko, melakukan profiling, dan beradaptasi dengan teknologi. Tapi itu belum cukup.

Kontribusi adalah arahnya. Imigasi kini hadir di 18 kantor baru, menjemput bola ke desa terpencil, melayani antar pulau. Bukan untuk gengsi institusi, melainkan untuk rakyat yang selama ini jauh dari jangkauan layanan.

Yang paling mendasar adalah komitmen moral. Di sinilah letak ujian sejati. Dalam Etika Profesi mengingatkan: profesionalisme mencapai puncaknya pada tahap being ketika integritas sudah menyatu dalam karakter, bukan karena takut atasan atau hukuman. Saat menolak suap, saat melayani ramah di tengah lelah, di situlah being bekerja.

Tapi bagaimana saat atasan memerintahkan “jalan pintas” yang melanggar prosedur? Dilema etik antara loyalitas buta dan integritas profesi akan terus menghantui. Jawabannya tegas: loyalitas konstruktif (Constructive Loyalty).

Ingatkan dengan santun, tawarkan solusi legal, dan pahami hierarki aturan kode etik dan UU di atas perintah individu. Pasal 51 UU ASN bahkan mewajibkan penolakan terhadap perintah melanggar hukum.

Para pemimpin masa depan tidak perlu memilih antara “profesional tapi langgar aturan” atau “biasa tapi taat aturan”. Ambil keahlian dari yang pertama, integritas dari yang kedua, lalu kombinasikan. Jadilah pemimpin yang profesional sekaligus berintegritas.

“Imigrasi untuk Rakyat” adalah panggilan untuk bertransformasi: dari sekadar pekerjaan (occupation) menuju panggilan jiwa (vocation), lalu menjadi karakter (being). Menjadi petugas Imigrasi bukan sekedar mencari nafkah, melainkan menjalankan profesi luhur (Officium Nobile) untuk melayani dan melindungi kedaulatan negara, Karena pada akhirnya, kepercayaan publik adalah aset paling berharga yang dijaga. Sekali khianati, butuh waktu lama memulihkannya.

Masyarakat percaya kita menjaga pintu gerbang negara. Jangan khianati kepercayaan itu. Itulah inti etika profesi keimigrasian . Itulah makna sejati “Imigrasi untuk Rakyat”. (*)

Oleh: Dr. Drs. RP Mulya, SH,MH,MAP

Read more