Kasus Kematian ART di Jepara Viral, Polisi Akan Gali Makam untuk Penyelidikan

Kasus Kematian ART di Jepara Viral, Polisi Akan Gali Makam untuk Penyelidikan

JEPARA – Polres Jepara bakal melakukan ekshumasi alias menggali makam asisten rumah tangga (ART) yang meninggal dunia di rumah majikannya di Desa Ngasem, Kecamatan Batealit.

Langkah ini ditempuh guna keperluan penyidikan mengingat munculnya sejumlah isu yang beredar hingga viral di media sosial (medsos), jika korban merupakan korban pembunuhan hingga mencuat ada perkara utang piutang di dalam kasus kematian itu.

Terlepas dari isu itu, Kasatreskrim Polres Jepara, AKP M Faizal Wildan Umar Rela mengatakan, upaya Scientific Crime Investigation dilakukan untuk mengungkap kasus dan memberikan fakta atas asumsi-asumsi liar tersebut.

Dalam pelaksanaannya, kata Wildan, pihaknya akan melibatkan unit identifikasi Polda Jateng, Bidlabfor Polda Jateng dan Biddokkes Polda Jateng.

“Ini menjadi perhatian khusus buat kami. Kami akan melakukan ekshumasi,” kata AKP Wildan kepada RMOLJateng (12/11).

Dari hasil identifikasi sementara, Wildan membenarkan jika korban ditemukan tak bernyawa di rumah majikannya.

“Benar, yang bersangkutan ditemukan meninggal dunia di rumah majikannya. Tapi keluarga korban belum melapor kepada kami,” kata AKP Wildan.

Berdasar pemeriksaan Dokter Haris Taqwa yang bertugas di Puskesmas Batealit, Wildan menyebutkan, tidak ditemukan luka atau tanda kekerasan pada badan jenazah. Terdapat lebam mayat di wajah.

“Diperkirakan sudah meninggal dunia dua jam sebelum ditemukan,” sebut Wildan.

Terkait pengungkapan kasus ini, Wildan mengaku sudah memeriksa empat orang saksi. Yaitu JR, MYG, UL dan MR.

Berdasarkan keterangan mereka, jelas Wildan, pada Sabtu (8/11) sekitar pukul 05.30 WIB, UL melihat korban sedang berjalan menuju kamar mandi.

Setelah itu korban langsung kembali ke kamar untuk salat. Diperkirakan korban kemudian menjalankan salat subuh.

Sekitar pukul 06.00 WIB, anak sang majikan yang sebelumnya tidur bersama korban, sedang duduk di kasur dengan kondisi bersandar di depan almari. Saat itu wajah korban tertutup rambut dan terlihat pucat.

Setelah itu, lanjut Wildan, UL memanggil JR. Kemudian, mereka berdua masuk kamar dan berupaya membangunkan ART itu.

“Saat itu diketahui korban sudah meninggal dunia. Lalu mereka menghubungi ketua RT setempat,” kata AKP Wildan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun pihak Kepolisian, diketahui Khoiriyah baru bekerja sekitar dua pekan di rumah JR. Korban biasa tidur bersama anak-anak majikannya.

“Sebelumnya, korban masih berkomunikasi dengan saksi 2 (MYG). Dan tidak pernah mengeluhkan tentang kondisi badan,” ujar Wildan.

Sementara berdasarkan keterangan keluarga, ungkap Wildan, Khoiriyah hidup sebatangkara dan pernah mengalami depresi karena masalah ekonomi.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter, pihak keluarga menerimakan kejadian tersebut. Kemudian, jenazah dibawa ke rumah duka dan dimakamkan di Desa Kerso.

Read more