Kasus Perundungan di Sukun Mendadak Viral, Polresta Malang Kota Beri Tanggapan
MALANG – Sebuah video yang memperlihatkan aksi dugaan perundungan terhadap seorang anak perempuan di Kota Malang mendadak viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut terlihat korban, yang mengenakan kaus hitam dan celana abu-abu, terduduk di anak tangga sambil beberapa kali dipukul dan ditampar oleh teman-temannya.
Menyikapi hal ini, Polresta Malang Kota langsung bergerak cepat dan melakukan penelusuran untuk menindaklanjuti dugaan kasus perundungan tersebut. Video menunjukkan korban tiba-tiba dipukul di pipi oleh salah satu anak perempuan, lalu ditampar dua kali di bibir dan rahang oleh anak perempuan lainnya.
Korban juga sempat berdiri dan kemudian didorong hingga hampir terjatuh, sebelum kembali menerima pukulan saat berdiri. Pada bagian akhir video, dua pelaku bekerja bersama melakukan pemukulan beberapa kali secara bersamaan, sementara salah satu dari mereka mengancam korban untuk duel.
Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Malang Kota sudah mengantongi identitas korban dan terduga pelaku yang diduga perempuan. Polsek Sukun juga sudah mendatangi lokasi kejadian untuk mengumpulkan barang bukti dan keterangan saksi.
Kasus ini masih dalam tahap penelusuran dan akan dilimpahkan secara resmi ke Unit PPA. Korban bersama orang tuanya juga akan membuat laporan resmi dalam waktu dekat. Meski lokasi dan latar belakang lengkap tidak diungkap ke publik, kejadian ini kembali menjadi pengingat bahwa perundungan di kalangan pelajar masih terjadi dan bisa direkam serta beredar luas secara daring.
Respon dari lembaga pendidikan maupun komunitas pun semakin mendesak perlunya penguatan karakter dan pengawasan terhadap interaksi siswa di sekolah maupun di luar sekolah. Pihak sekolah diharapkan melakukan evaluasi serta memastikan lingkungan belajar aman dan nyaman bagi semua siswa tanpa kekerasan fisik atau verbal.
Kasus ini menjadi alarm bagi orang tua, guru, dan pihak sekolah untuk lebih responsif terhadap indikasi perundungan, baik yang terjadi di kelas, di jalur akses sekolah, maupun melalui media sosial.
Lingkungan sekolah harus dilengkapi dengan mekanisme pelaporan yang jelas dan cepat tanggap, agar korban merasa terdengar dan aman. Selain itu, masyarakat di sekitar sekolah juga diharapkan membantu menciptakan lingkungan yang mendukung siswa untuk berbicara apabila mereka menghadapi kekerasan atau intimidasi.