oleh

Kejar KKB di Papua, Bharada Udin Terseret Arus, Belum Ditemukan

bhinnekanusantara.id – Sudah lebih dari sepekan, Bhayangkara Dua (Bharada) Udin Saprudin, yang terseret arus Kali Yal, Distrik Mugi, Kabupaten Nduga, Papua, belum ditemukan. Anggota Brimob berusia 24 tahun itu terbawa arus, Jumat (1/3/2019) siang, saat bersama 15 rekannya mengejar kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) di Papua pimpinan Egianus Kogoya.

Kedua orang tua Udin di Desa Cikandang, Kelurahan Luragung Kabupaten Kuningan, Jabar mengharapkan putra tunggal mereka masih hidup. Pada hari Selasa (5/3/2019), pihak Brimob mengabarkan bahwa Udin meninggal dan jenazahnya sudah ditemukan. Namun, dua hari kemudian, pihak yang sama mengabarkan bahwa Udin belum ditemukan.

“Ya, kami mendapat konfirmasi dari AKP Sriyono, Kepala SDM Mako Brimob, Cikeas,” kata Aida Ningsih, ibu angkat Udin di Cibubur, Jakarta, Minggu (10/3/2019).

Sriyono adalah jubir Brimob yang mengabarkan kehilangan Udin pada hari Sabtu (2/3/2019) dan pada hari Selasa (5/3/2019), menyampaikan bahwa Udin ditemukan dalam kondisi sudah meninggal. Selang dua hari kemudian, Sriyono mengabarkan lagi bahwa Udin belum ditemukan.

“Penasaran dengan penjelasan Sriyono, kami ke Cikeas untuk bertanya langsung,” kata Aida. Ia ke Cikeas hari Jumat (8/3/2019) untuk mendapatkan keterangan lebih detail. Aida menjelaskan, pihak Brimob belum menemukan Udin. Saat ini, semua kekuatan Brimob di Nduga dikerahkan untuk mencari Udin. Pengejaran KKSB, untuk sementara dihentikan.

“Kami mohon maaf. Karena kami belum bisa menemukan Udin,” ujar Aida menirukan Sriyono. Pihak Brimob juga sudah mengabarkan langsung musibah yang menimpa Udin kepada kedua orangtuanya, Sarka dan Ona di Desa Cikandang, Kecamatan Luragung, Kuningan, Jabar.

Bukan hanya Sarka dan Ona serta keluarga yang mengharapkan Udin masih hidup. Sriyono mengatakan, seluruh keluarga besar Brimob juga mengharapkan Udin¬†survive¬†meski ransel dan tikarnya sudah ditemukan. “Udin memberikan kesan yang sangat baik kepada rekan-rekan dan atasannya di Brimob,” ungkap Sriyono.

Informasi Udin meninggal bertepatan dengan penemuan jenazah tiga anggota TNI di Nduga. Awal pekan lalu, tiga dari 25 anggota TNI tewas saat terlibat kontak senjata dengan pasukan KKB. Ke-25 anggota TNI itu sedang bergerak dari Jayapura menuju pos tugas mereka di Nduga. Namun, di tengah jalan, mereka disergap sekitar 50 orang anggota KKSB pimpinan Egianus Kogoya. Sekitar 10 orang lebih anggota KKSB tewas, namun jenazah mereka dibawa rekan-rekannya.

Peristiwa nahas itu terjadi pada hari Jumat (1/3/2019), pukul 12.43 WIT. Udin bersama 15 rekannya pimpinan Ipda Bondan Rahardiansyah bergerak dari Yigi ke Mugi dengan menyeberangi Kali Yal untuk mengepung KKSB dari belakang. TNI mengepung dari depan, sedang Brimob dari belakang.

Waktu itu, wilayah setempat baru selesai diguyur hujan lebat. Sungai dan kali banjir, termasuk Kali Yal. Hutan yang lebat dan gunung-gunung yang tinggi menyebabkan sungai dan kali di Papua banyak air dan pada saat hujan terjadi banjir hebat.

Menggunakan tali, pasukan Brimob menyeberang Kali Yal beregu dan bertahap. Tahap pertama tiga orang dan yang lainnya mengawasi. Dua dari tiga orang berhasil tiba di seberang. Sedang Udin yang berada paling depan terlepas dari tali. Rekan-rekannya tidak memiliki tali cadangan untuk membantu Udin, sehingga anggota Brimob yang baru dua tahun bekerja itu tak bisa ditolong dan hanyut dibawa arus kencang.

Tidak ada alternatif lain untuk menyeberangi Kali Yal selain berenang. Saat arus deras, penyeberang menggunakan tali. Jembatan belum dibangun. Kapolda Papua Irjen (Pol) Mariani Sormin mengakui medan yang dilewati cukup berat dan arus Kali sangat deras. Pihaknya sudah membentuk satgas khusus untuk menemukan Udin.

Saat hanyut, tikar dan ransel Udin terlepas. Kedua benda itu sudah ditemukan Brimob. Diharapkan ketika banjir surut, Udin bisa ditemukan. Pihak Brimob bertekad menyusuri kali hingga muara.

Awal Desember 2018, sebanyak 31 pekerja jalan raya di Kabupaten Nduga, Papua tewas ditembak KKSB pimpinan Egianus. Para korban adalah karyawan PT Istaka Karya yang sedang membangun jalan raya jalur Wakema-Kenyam-Mamugu sepanjang 248,30 km, termasuk 35 jembatan. Ruas jalan ini merupakan bagian dari rencana pembangunan jalan Trans-Papua sepanjang 4.600 km yang dicanangkan Presiden Jokowi.

Bagi Sarka dan Ona, istrinya, Udin adalah segalanya. Karena anggota Brimob yang pernah bertugas di Palu itu adalah anak semata wayang. “Saya terus berdoa agar putra saya masih hidup,” kata Ona, tak mampu menahan air mata.

Sejak menerima berita kehilangan Udin, Sabtu (2/3/2019), Sarka tidak pernah keluar rumah. Ia menunggu anaknya pulang. Mulutnya terus berkomat-kami mendaraskan doa kepada YME. “Udin belum ditemukan, artinya Udin masih hidup,” begitu yang ada di pikiran penabuh gendang musik jaipongan itu.

Setamat SMA, Udin dititipkan orangtuanya pada keluarga Aida Ningsih di Cibubur. Mereka masih karabat. Udin sudah menganggap Aida ibunya, begitu pula sebaliknya. Kesedihan Ona adalah juga kesedihan Aida.

“Menjadi polisi adalah cita-citanya,” kata Sarka. Itu sebabnya, selepas SMA di Luragung, Kuningan, Udin tinggal di Cibubur, Jakarta Timur agar bisa mendapatkan akses menjadi polisi.

Berbadan atletis, Udin adalah pesepakbola yang andal. Ia pernah memperkuat Kesebelasan Kuningan dan sejak kelas 1 SMA mendapat beasiswa dari sebuah klub sepak bola. Pelatih klub itu mengharapkan Udin memilih sepak boleh sebagai profesi.

Namun, niat Udin untuk menjadi polisi jauh lebih kuat. Di Jakarta, Udin mendapatkan akses menjadi polisi. Fisiknya yang atletis, karakternya yang bagus, dan otaknya yang cerdas memuluskan niatnya menjadi polisi.

Ia kemudian direkrut menjadi anggota Brimob, pasukan elite polisi. Udin bangga dengan profesinya. Saat berkunjung ke rumah Aida di Cibubur ia acap mengenakan seragam Brimob.

Suatu malam, kata Aida, ia sangat kaget. Bunyi sepeda motor yang meraung-raung menuju pintu gerbang rumahnya. Ketika di tengok, pasukan hitam-hitam berderet. Ada sekitar 40 sepeda motor, masing-masing dua orang.

“Saya mendapat tamu kehormatan dari Brimob,” kenang Aida. Malam itu adalah malam Tahun Baru 2018 atau 31 Desember 2017. Komandan Brimob yang malam itu hadir menuturkan, Udin adalah anggota Brimob yang baik. Cekatan dan rendah hati. Ia adalah pemain Futsal Brimob Cikeas.

“Ona, kalau pun, Udin pergi, kita harus ikhlas. Karena dia mati sebagai pahlawan. Pembela NKRI. Pembela Garuda. Kita sebagai orang tua harus berbangga karena kita sudah mempersembahkan putra kita sebagai kusuma bangsa,” kata Aida saat mengulang pesannya kepada Ona.

 

 

Sumber : Berita Satu

Editor : Aishwarya IMM Polda Jateng