Kisah Perantau Asal Wonogiri Bertahan di Ibu Kota dengan Sego Berkat

bhinnekanusantara.id – Kangen merasakan kehidupan di kampung juga dialami Ryna Mardianti yang merantau di Pondok Jaya, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten. Di kawasan pusat bisnis itu, dia membuka warung mi ayam dan bakso khas Wonogiri.

Ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia, usahanya ikut terpukul. Terpaksa tutup karena sepi pembeli. “Saya juga takut tertular Covid-19. Jadi pilih tutup warung sekalian,” terangnya dihubungi via telepon, kemarin (6/6).

Kondisi tersebut tentu membuat pemasukan warga asal Lingkungan Jarum, Kelurahan/Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri ini mandek, sedangkan kebutuhan keluarga tidak bisa ditunda.

Ryna putar otak. Hingga suatu hari adiknya terlihat membeli beberapa bungkus nasi berkat sebagai obat rindu kangen rumah. Nasi atau sego berkat ini memang jadi salah satu ciri khas di kampung, khususnya saat digelar hajatan atau selamatan, tamu atau warga akan diberi sego berkat oleh si empunya hajat.

“Belinya di Cipondoh. Cipondoh dan Pondok Aren kan jauh. Kasihan ojol (ojek online)-nya mengantarkan jauh, biaya kirimnya saja Rp 90 ribu. Harga nasi berkatnya Rp 120 ribu,” ujar dia.

Perempuan ini dengan seksama memperhatikan kemasan dan isi nasi berkat. Ryna memastikan bisa membuatnya secara mandiri. Apalagi di kawasan tempat tinggalnya belum ada yang jual menu tradisional tersebut, sedangkan jumlah perantau asal Wonogiri di tempat itu cukup banyak.

Peluang pasar itu tak disia-siakannya. Sebelum puasa, Ryna mulai mengeksekusi idenya berjualan nasi berkat dengan target pasar para perantau dari Kota Sukses.

“Dalam keadaan pandemi ini yang penting bagaimana bisa bertahan hidup di perantauan, gitu saja,” jelasnya.

Nasi berkat racikan perempuan 49 tahun ini berisi nasi, bihun, oseng tempe, daging sapi, dan lainnya. Makin nikmat karena bungkusnya menggunakan daun pohon jati. Harganya cukup terjangkau, Rp 12 ribu per bungkus.

Menu tersebut dipasarkan hanya lewat Facebook. Jelang Lebaran lalu, Ryna banjir order. Bisa mencapai 100 bungkus per hari. Karena sudah biasa menggeluti kuliner, pesanan yang membeludak itu tak membuatnya kerepotan. Ryna dibantu salah seorang perantau Wonogiri yang terpaksa dirumahkan dari perusahaan kontraktor tempatnya bekerja.

Nasi berkat racikan Ryna banyak menuai pujian. “Aroma nasi yang dibungkus daun jati katanya dikangeni,” jelasnya. Pascalebaran, Ryna menambah menu baru, yaitu tengkleng. Namun, nasi berkat dengan aroma daun jati tetap jadi andalan. (dealova)