oleh

Lawan Hoaks dan Fitnah, Relawan Jokowi-Ma’ruf Disarankan Masuk ke Arena ‘Counter Culture’

bhinnekanusantara.id – Para pendukung Capres-Cawapres Nomor Urut 01, Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin, disarankan untuk melakukan gerakan ‘Counter Culture’ untuk menghadapi sejumlah hoaks dan fitnah yang dialamatkan kepada kandidatnya, khususnya di wilayah Jawa Barat (Jabar).

Hal tersebut disampaikan oleh Peneliti Seven Strategic Studies, Girindra Sandino, saat menanggapi penurunan elektabilitas pasangan Jokowi-Ma’ruf di Jabar.

Girindra mengungkapkan, kebanyakan hoaks dan fitnah yang dialamatkan kepada Jokowi-Ma’ruf di Jabar menyebar melalui media sosial (medsos) atau pesan berantai dan yang paling berbahaya adalah melalui ‘door to door’.

“Yang terjadi saat ini adalah perang gerilya dengan menggunakan senjata informasi. Maka langkah konkret yang harus dilakukan tim sukses, relawan dan pendukung Jokowi adalah responsif melawan dengan memetakan dahulu daerah atau basis-basis yang paling rawan penyebaran hoaks dan menganalisanya,” ungkapnya, Jakarta, Minggu (10/3/2019).

Dalam sejarah kerelawanan, Girindra menyebutkan, Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Indonesia mungkin salah satu pelopor perekrut relawan militan dengan jumlah hampir 300.000 orang di seluruh Indonesia.

Saat itu, menurut Girindra, pendiri, penggagas dan Sekjen KIPP 1996 yang kini sudah almarhum pernah menyatakan bahwa pihaknya bukan saja memantau gerakan status quo dengan cara-cara demokratik untuk mendegradasi kekuasaan Orde Baru melalui pemantauan pemilu, namun lebih dari itu, KIPP menggerakkan rakyat untuk masuk ke dalam arena ‘Counter Culture’.

Artinya, Girindra menegaskan, relawan-relawan Jokowi yang mengaku militan harus terus melakukan aksi agitasi positif ke dalam basis-basis lawan penyebar fitnah dan hoak dengan melakukan aksi-aksi ‘Counter Culture’ yang konkret.

“Seperti diskusi kampung, door to door, selebaran yang bersifat persuasif dan lain-lain, dengan tentunya ada koordinator yang mengawasi bahwa aksi-aksi relawan-relawan benar-benar nyata, bukan hanya jalan-jalan dan gosip-gosip dan terlena,” ujarnya.

Girindra mengatakan, kubu pasangan Capres-Cawapres Nomor Urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sepertinya masih ingin menghidupkan kembali politik identitas karena dinilai strategi agresif dan ofensif masih efektif meraih simpati pemilih. Selain itu, juga karena kepanikan merangseknya kubu Jokowi ke Jabar yang sempat unggul 4 persen pada 2 bulan lalu.

“Hal ini harus menjadi perhatian serius, mengingat pemungutan suara tinggal sebulan setengah lagi. Jika metode penghafalan saja 40 kali repetitif atau pengulangan baru menyangkut di otak atau alam bawah sadar. Nah jika hoaks diproduksi secara terus menerus dengan pola yang berulang, lama-lama akan menempel di kepala sebagai sebuah kebenaran bahkan menjadi sebuah hal yang melekat di kepala para pemilih Jawa Barat,” katanya.

Oleh karena itu, Girindra menjelaskan, produksi hoaks saat kompetisi politik yang saat ini semakin mendidih akan sangat berbahaya jika terus diulang-ulang menjadi pembicaraan dan kebenaran di pikiran masyarakat. Menurutnya, sangat berbahaya karena masyarakat akan luntur akal sehatnya dari kultur yang toleran dan yang ada hanya kebencian massal.

Girindra menegaskan, kebencian massal akibat hoaks ini akan menjadi konflik laten yang kemudian selanjutnya termanifestasi berubah menjadi konflik terbuka, serta secara sosiologis berdampak destruktif terhadap sistem sosial di masyarakat setempat.

“Fitnah dan hoaks ini tidak bisa dianggap enteng, harus ada langkah-langkah konkret dari tim sukses, relawan dan pendukung dengan menggerakkan rakyat ke arena ‘counter culture’ dengan aksi-aksi agitasi positif yang simpatik,” ungkapnya.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu elektabilitas Jokowi-Ma’ruf sempat mengalami penurunan di wilayah Jabar. Bahkan, Jokowi sendiri mengakui elektabilitasnya turun karena hoaks dan fitnah.

Padahal, sekitar 2 bulan terakhir, Jokowi-Ma’ruf unggul 4 persen dari Prabowo-Sandi di Jabar. Akan tetapi, saat ini anjlok 8 persen.

Hasil penyelidikan tim sukses dan relawan menemukan adanya upaya penyebaran hoaks dan fitnah kepada Jokowi-Ma’ruf. Khususnya, soal dilarangnya azan dan juga disebut akan melegalkan perkawinan sesama jenis jika pasangan capres-cawapres 01 menang.

 

 

Sumber : Akurat

Editor : Aishwarya IMM Polda Jateng