Longsor Manggarai Barat, Basarnas Masih Cari Empat Korban Hilang

bhinnekanusantara.id – Sampai Sabtu (9/3/2019) pagi tim dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Search And Rescue) atau Basarnas bersama TNI, Polres Manggarai Barat, Brimob, Palang Merah Indonesia (PMI) bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat masih mencari empat dari delapan orang yang meninggal dunia di Desa Liang Ndara dan Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeling, Kabupaten Manggarai Barat, akibat bencana tanah longsor.

Kapolres Manggarai AKBP, Julisa Kusumowardono, melalui Kepala Humas Polres Mabar, Bripda Roberto Emanuel Andreas Sino, Sabtu (9/3/2019), mengatakan, sampai Sabtu (9/3/2019) pagi, tim terus berusaha mencapai lokasi longsor tempat empat korban yang belum ditemukan.

Hingga saat ini dua alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Mabar sedang melakukan pembersihan material tanah longsor yang dimulai dari titik Kampung Mamis, Desa Compang Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling.

Hujan deras yang mengguyur Manggarai Barat, Kamis (7/3/2019) malam sampai pagi menyebabkan banjir dan tanah longsor di lima desa di Kecamatan Mbeling dan Kecamatan Komodo, Manggarai Barat.

Akibat tanah longsor itu, delapan orang dinyatakan meninggal dunia. Selain itu, sejumlah rumah tertimbun tanah, serta sejumlah rumah warga tertimbun tanah longsor dan ruas jalan raya dan jembatan terputus.

Delapan orang yang meninggal dunia itu semuanya berada di Desa Liang Ndara dan Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeling.
Dari delapan korban yang meninggal dunia itu, empat orang belum ditemukan yakni Margareta Ersi (40 tahun), Hilariani Jelita Mensa (12 tahun), Yosefa Nelti (6 tahun) dan Paulinus Salim (65 tahun).

Sedangkan korban yang meninggal dunia yang sudah ditemukan yakni Hironimus Rius (50 tahun), pekerjaan petani, dan Leonardus Rifal (13 tahun), kelas 2 SMP. Keduanya warga Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeling.

Selanjutnya Remigius Sera (30 tahun), pekerjaan guru komite SMPN 4 Mbeliling, dan putrinya Fransiska Tania Sera (8 bulan), warga Kampung Herokoe, Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeling.

Selain korban jiwa, sejumlah rumah penduduk dan dua jembatan di Jalan Trans Flores, tepatnya di bawah kaki Gunung Mbeliling mengalami rusak parah, sehingga arus transportasi di wilayah itu putus total.

Dikatakan, pada Jumat (8/3/2019), dilaksanakan kegiatan penggusuran lokasi longsor di jalan Trans Ruteng-Labuan Bajo tepatnya di Wae Liha, Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbliling.

Namun kegiatan penggusuran di lokasi longsor dihentikan karena cuaca tidak mendukung dengan turunnya hujan yang maneghambat proses penggusuran material. Kegiatan pengguran itu dilanjutkan hari ini, Sabtu (9/3/2019).

Sampai Sabtu (9/3/2019) pagi juga sebanyak 158 orang jiwa korban longsor dari Desa Liang Ndara dan Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeling yang selamat masih diungsikan di Aula Polres Manggarai Barat di Labuan Bajo.

Selain desa Tondong Belang dan Liang Ndara, tiga desa lain yang terkena bencana tersebut adalah Dusun Gorontalo, Desa Gorontalo dan Dusun Nanganae, Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo.

Di dua desa ini tidak ada korban jiwa dan warga tidak mengungsi. Hanya sebagian rumah mereka terkena banjir.
Banjir di dua desa ini lebih disebabkan karena kali Wae Mese, Desa Rangga Watu, Kecamatan Komodo dengan ketinggian kurang lebih 2 meter, menggenangi perumahan warga di beberapa kampung yakni Kampung Gorontalo, Desa Gorontalo; Kampung Nanganae Desa Macang Tanggar; Kampung Weor Capi dan Walang dan Desa Golo Bilas.

Sampai Sabtu pagi, warga yang terkena banjir di bebera desa ini membersihkan rumah dari material lumpur dan genangan air yang terbawa banjir, serta membersihkan perabot rumah tangga.

Kondisi air di Dusun Gorontalo dan Dusun Nanganae telah surut namun di beberapa titik masih terlihat genangan air dengan ketinggian antara 10-20 cm. Arus lalu lintas ramai lancar.

Pada Jumat (8/3/2019), Bupati Mabar, Agustinus Ch Dula langsung menerbitkan Surat Keputusan (SK) tentang kondisi Mabar dalam keadaan darurat bencana alam. Dula mengungkapkan rasa keprihatinan mendalam kepada warga Mabar yang menjadi korban bencana alam banjir dan tanah longsor.

Menurut Dula, bencana alam yang tejadi, tidak bisa diprediksi sebelumnya. Bencana kali ini, lanjutnya, benar-benar menghancurkan kehidupan warga di sejumlah tempat di Mabar.

 

 

Sumber : Berita Satu

Editor : Aishwarya IMM Polda Jateng