oleh

Mahasiswa FISIP Undip Semarang Ini Kembali Diciduk Polisi, Malah Naik Tingkat Sebagai Pengedar Sabu

bhinnekanusantara.id – Bukannya menyelesaikan kuliah yang terbengkalai, Rico Geger Prakoso (23) malah sibuk menjadi kaki tangan bandar narkoba.

Mahasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) di Kota Semarang ini lagi-lagi harus berurusan dengan polisi lantaran menjadi pengedar sabu.

Bersama rekannya, M Dimas (24), Rico mengedarkan sabu sesuai permintaan seseorang yang masih dalam pengejaran.

Rico ditangkap anggota Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Semarang.

Dia hendak mengantar paket sabu di Jalan Seroja Karangkidul, Kecamatan Semarang Tengah pada 5 Maret 2019 lalu.

Dari hasil pengembangan keterangan Rico, polisi menciduk Dimas di rumahnya di Purwosari Kecamatan Semarang Utara.

Dimas ditangkap beberapa saat setelah mengonsumsi sabu.

“Sudah semester sembilan.

Saya kuliah D3 Jurusan Humas Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip Semarang,” ujar Rico.

Dari pengakuannya, Rico pernah ditangkap atas kasus yang sama pada Desember 2018 lalu.

Saat itu dia direhabilitasi karena berstatus sebagai pengguna.

Mahasiswa aktif D3 Humas Undip Semarang ini rupanya tak jera.

Dia malah kembali berurusan dengan narkoba.

Bahkan naik tingkat dari semula pengguna menjadi pengedar.

“Pernah ditangkap akhir 2018 tapi rehabilitasi.

Sekarang sudah selesai (rehab),” ujar Rico saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Selasa (12/3/2019).

Selain menerima upah Rp 350 ribu untuk sekali pengantaran, Rico dan Dimas juga mendapat bonus dari pria yang mengendalikannya.

Bonusnya berupa sabu seberat 0,5 gram yang bisa dipakai Rico dan Dimas.

“Saya disuruh ambil satu kantong.

Nanti saya pisah jadi 11 paket.

Diantar sesuai alamat yang disuruh sama itu (pria yang mengendalikan),” katanya.

Selama kurun waktu dua bulan terakhir, Rico dan Dimas telah mengambil sabu sebanyak dua kantong.

Biasanya, Rico mengambil paket sabu di pinggir jalan atau di bawah pohon.

Kemudian dikemas lagi menjadi paket kecil sebanyak 0,5 gram delapan klip dan satu gram sebanyak tiga klip.

Dari kedua tersangka, polisi juga menyita sejumlah barang bukti.

Barang bukti itu berupa sabu seberat dua gram, handphone, kartu mahasiswa, timbangan digital, alat hisap sabu atau bong, dan puluhan plastik klip kosong.

Keduanya dijerat Pasal 114 Ayat 2 sub Pasal 112 Ayat 2 juncto Pasal 132 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

“Ancaman hukumannya maksimal 20 tahun penjara,” ujar Wakapolrestabes Semarang, AKBP Enrico Silalahi.

Terpisah, pihak Undip secara tegas pun menyatakan tidak akan memberikan pendampingan hukum kepada mahasiswanya tersebut.

Hal itu diungkapkan Kepala UPT Humas dan Media Undip Nuswantoro Dwiwarno

“Undip tak akan memberi bantuan hukum kepadanya.

Karena perbuatannya menjadi tanggung jawab pribadi yang bersangkutan,” terang Nuswantoro.

Menurutnya saat ini Undip masih mengkroscek terkait kesesuaian dan kebenaran identitas mahasiswa bersangkutan dengan pihak fakultas.

Jika memang benar Rico Geger Prakoso merupakan mahasiswa Undip, apa yang dia lakukan menurut Nuswantoro dalam kapasitasnya sebagai pribadi.

“Ia melakukannya di luar kampus Undip sehingga menjadi tanggung jawab pribadi,” terangnya.

Menurutnya, Undip mendukung langkah-langkah penegak hukum untuk menindak Rico Geger Prakoso, jika dugaan penggunaan sabu itu terbukti.

“Karena itu adalah kasus pidana,” ujar dia.

 

 

Sumber : Tribun Jateng

Editor : Bhuwananda login by Polda Jateng