Masuk Musim Kemarau, Waspadai Kebakaran Hutan di Kalimantan dan Sulawesi

Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) memantau periode kemarau pertama akan dialami di Pesisir Sumatera bagian Tengah dan Kalimantan bagian Barat, untuk itu perlu diwaspadai potensi meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terutama di Riau. “Berdasarkan citra satelit, terpantau hotspot per provinsi 10 hari terakhir terdapat peningkatan titik panas di wilayah Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tengah,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Selasa (5/3).

Sementara untuk wilayah Riau, Sumatera Utara, dan Gorontalo, jumlah titik panas tergolong stabil. Peta analisis hari tanpa hujan berurutan di wilayah Sumatera menunjukkan beberapa tempat di pesisir timur Aceh, Sumatera Utara dan Riau terindikasi mengalami hari kering berurutan antara enam hingga 20 hari, kategori pendek dan menengah. Di Riau, hari tanpa hujan kategori panjang yaitu 21 hingga 30 hari telah terjadi di Rangsang, Rangsang Pesisir, dan daerah Tebing Tinggi. “Potensi ini memicu terjadinya karhutla di wilayah Sumatera dan Kalimantan Timur,” kata Dwikorita.

Sebagai langkah kesiapsiagaan BMKG, Dwikorita melakukan koordinasi dengan UPT BMKG di wilayah Riau untuk meningkatkan mitigasi dampak resiko dari karhutla, mengingat adanya SK Gubernur yang menyatakan kantor Stasiun Meteorologi SSK II Pekanbaru masuk ke dalam Tim Respon Cepat sebagai koordinator analisis data. Lebih lanjut, ia berharap BMKG Pekanbaru lebih rutin menginformasikan kondisi cuaca serta titik-titik hotspot. “Kita harus meningkatkan kualitas baik dalam penyampaian informasi, serta sebagai pelaku penggerak agar Tim Respon Cepat (TRC) dapat melakukan tindakan sedini mungkin guna meminimalkan korban dan dampak resiko karhutla,” tambah Dwikorita.

Selanjutnya, Dwikorita menuturkan, pada Agustus 2018 lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla telah melaunching Geohotspot 4.0. Geohotspot menggunakan satelit Himawari yang dilengkapi satelit Tera Aqua yang mendukung informasi hotspot. Dengan geohotspot, sambung Dwikorita, data peyajian informasi hotspot yang sebelumnya hanya bisa diupdate setiap 6 jam dan baru bisa disampaikan setelah 24 jam, saat ini bisa diupdate menjadi setiap 10 menit sehingga informasi terkait hotspot dapat disampaikan secara real time.

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia penyebabnya adalah 99% ulah manusia dan 1% nya adalah alam. “Antara lain, tidak sengaja karena buang putung rokok atau membakar sampah, disengaja karena ingin membuka lahan, dandisengaja karena dibayar. Alasannya adalah dampak kurangnya lapangan kerja,” kata Kepala BNPB Doni Monardo.

Permasalahan utamanya adalah karena faktor ekonomi masyarakat. Salah satu solusinya adalah memanfaatkan lahan yang subur di Riau dalammeningkatkankomoditasekonomi rakyat seperti kopi, lada, dan sebagainya, sehingga terbuka lapangan kerja untuk masyarakat. Contohnya pasar ladasetiap tahunnya sampai dengan USD16 miliar.

Upaya pencegahan dan mitigasi akan lebih baik dan efektif dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan. Tahun 2015, kerugian ekonomi Indonesia mencapai 221 triliun atau 2x lipat akibat kerugian ekonomi di bencana tsunami di Aceh.

Perubahan iklim banyak menjadi perbincangan di antara kita, solusinya adalah Kita Menjaga Alam, Alam Menjaga Kita. Harus menjaga keseimbangan alam. Program pentahelix yang melibatkan semua unsur, para pakar/akademisi, dunia usaha, pemerintah, masyarakat dan media. Korban akibat bencana melampui korban perang, selama 18 tahun (2000-2018) mencapai 1.220.701 orang yang meninggal.

Gubernur Riau, Syamsuar mengatakan Pulau Bengkalis adalah pulau terluar dari Riau, selain Karhutla ancaman bencana lainnya adalah abrasi.”Terima kasih atas kunjungannya ke Riau, komitmen kami mencetuskan Riau Hijau. Sesuai arahan Presiden tidak ada pembukaan lahan baru, dankami berkomitmen tentang hal tersebut.Karena sudah ada2.8 juta hektar lahan sawit dan Riau merupakan terbesar di Indonesia,” kata Gubernur.

 

 

Sumber : neraca.co.id

Editor : Bhuwananda login by Polda Jateng