oleh

Moderasi beragama dan Wawasan Kebangsaan Adalah Kunci Persatuan Bangsa

Bhinnekanusantara.id, kudus – Kepala Unit Keamanan Khusus Satintelkam Polres Kudus, IPTU Subkhan, S.H., M.H menjelaskan peran strategis penyuluh agama dalam rangka menjaga moderasi beragama dan kebhinekaan di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikan dalam kegiatan Pengarusutaman Moderasi Beragama Dan Wawasan Kebangsaan Penyuluh Kantor Kementrian Agama Kab. Kudus yang diikuti oleh penyuluh agama se-Kab. Kudus, Senin ( 19/4)

Menurut IPTU Subkhan, memahami ajaran agama dari sisi aqidah, syariah dan tasawuf secara seimbang menjadi sangat penting karena akan menjadikan cara berpikir seseorang menjadi moderat, sehingga sikap dan cara beragamanya yang moderat akan menjadikan seseorang berkepribadian paripurna. Ketika moderasi dan wawasan kebangsaan memiliki tujuan menjaga toleransi di tengah kebhinekaan dan persatuan dan kesatuan, maka paham radikalisme menjadi ancaman karena didalamnya terdapat doktrin fanatic, hakimiyah / takfiri, intoleran, eksklusif dan revolusioner.

Sebagai penyuluh agama yang fatwa-fatwanya menjadi rujukan masyarakat, memiliki tugas penting dan mulai yaitu bagaimana menjaga masyarakat di lingkungan kerjanya agar terbentengi dari segala hal yang merusak moderasi beragama dan wawasan kebangsaan. Hal pertama yang harus dilakukan setelah diangkat sebagai penyuluh agama adalah melakukan langkah nyata untuk menanggulangi gerakan propaganda radikalisme yang saat ini gencar disebarkan melalui media online dan media social yang dijadikan sebagai media utama penyebarannya.

IPTU Subkhan melanjutkan, perlunya memperkuat literasi melalui media online dan media social berbasis ajaran agama untuk mengimbangi propaganda penyebaran paham radikalisme serta berita hoax yang memicu iujaran kebencian serta perpecahan. Menurutnya, jika tidak ditanggulangi secara cepat dan tepat akan berdampak pada tereduksinya ikatan antar umat beragama di Indonesia. Pendidikan ini bertujuan untuk membentuk suatu perilaku yang baik pada masyarakat, berdasarkan nilai dan norma tauhid / aqidah, syariah dan tasawuf sehingga memiliki pemahaman cara beragama yang baik, toleransi dan tidak menyimpang.

Perlu diketahui bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 telah menjadikan moderasi beragama sebagai pilar penting yang sekaligus menjadi modal sosial dalam membangun bangsa ini, oleh karenanya, keluarga besar penyuluh agama dituntut harus mampu memberikan kontribusi konkret dalam membangun dan mendiseminasi moderasi beragama dan wawasan kebangsaan tidak hanya di lingkungan kerjanya tetapi juga di masyarakat luas.

Kudus, secara historis menjadi kiblat toleransi di Indonesia karena terdapat bangunan Masjid Menara warisan Sunan Kudus. Selain menjadi tempat ibadah, Masjid Menara Kudus menjadi simbol pengalaman ratusan tahun mengelola keberagaman etnis dan agama masyarakat Kudus.
Masjid Menara Kudus memiliki konsep moderasi beragama yang sangat tinggi, dimana bangunannya merupakan kombinasi dari tiga ajaran agama, yakni Islam, Hindu dan Budha. Kubahnya mencirikan ajaran Islam, bangunannya mencirikan ajaran Hindu dan pancuran tempat wudhunya mencirikan ajaran Budha.

Atas ijin Tuhan dan usaha kita semua dalam menjaga moderasi beragama, maka isu-isu terkait SARA, ekstrimisme beragama seyogyanya tidak sedikitpun dapat mengusik kedamaian yang tercipta di sini, karena melalui persaudaraan masyarakat beragama akan jauh lebih mampu untuk memaknai bagaimana moderasi dalam beragama itu harus diwujudkan.

“Kedamaian tercipta bukan karena agama, namun karena budaya. Apapun agamamu, ketika budayanya rukun maka kedamaian akan terwujud, tapi ketika agamanya samapun namun budayaan tidak rukun maka kedamaian sulit terwujud. Penting untuk menjaga agar cara beragama kita dapat membuat Tuhan tersenyum, orang-orang disekitar tersenyum dan alampun tersenyum karena cara beragama kita tidak merusak”, pungkasnya.

News Feed