Niat Cari Kerja Berujung Petaka: Kisah Pilu Glen dan Rizki Terjerat Kasus Ponsel Curian

Niat Cari Kerja Berujung Petaka: Kisah Pilu Glen dan Rizki Terjerat Kasus Ponsel Curian

Medan - Apa yang bermula dari niat sederhana untuk mengubah nasib, justru menyeret dua pemuda asal Sidikalang, Glen dan Rizki, ke dalam pusaran masalah hukum yang kelam. Harapan membantu orang tua dan keluar dari jerat kemiskinan berakhir pada tindak pidana, penganiayaan, hingga jeruji besi.

Awal September 2025, Glen dan Rizki menemukan sebuah lowongan pekerjaan di Facebook. Tawaran itu terdengar menjanjikan: pekerjaan sebagai teknisi ponsel di kawasan Pancur Batu. Tanpa pengalaman kerja yang mapan dan dihimpit keterbatasan ekonomi, keduanya melihat peluang tersebut sebagai secercah harapan untuk hidup yang lebih layak.

Namun, sejak awal, firasat buruk sudah muncul. Ibu Glen merasa gelisah dan bersikeras ikut mengantar anaknya. Ia ingin memastikan pekerjaan itu benar-benar nyata dan tidak berujung penipuan. Keduanya pun diantar langsung ke sebuah konter ponsel bernama Promo Cell, milik pria berinisial PS, di wilayah Pancur Batu.

Dalam kesepakatan awal, PS menjanjikan upah 50 persen dari ongkos jasa servis, dibayarkan setiap minggu, lengkap dengan makan dua kali sehari. Namun janji tinggal janji. Selama bekerja, Glen dan Rizki hanya diberi makan sekali sehari. Meski kecewa dan mulai merasa diperlakukan tidak adil, keduanya memilih bertahan—didorong harapan bahwa kesabaran akan berbuah hasil.

Setelah satu minggu bekerja, Glen dan Rizki memberanikan diri menagih upah. Berdasarkan catatan mereka, omzet jasa servis telah mencapai sekitar Rp2 juta. Namun yang diterima hanya Rp100 ribu untuk berdua. Dengan alasan pembayaran akan diakumulasi minggu berikutnya, PS meminta mereka bersabar. Dalam kondisi terdesak, keduanya kembali mengalah.

Minggu kedua berlalu. Omzet jasa servis menurut catatan pribadi Glen dan Rizki telah menyentuh Rp5 juta. Melalui pesan WhatsApp, mereka kembali menagih hak mereka—dua minggu kerja dikurangi Rp100 ribu yang sudah diterima. Namun kejelasan tak kunjung datang.

Situasi kian berat. PS diketahui memiliki beberapa konter ponsel lain dengan jarak yang cukup jauh. Tanpa uang sepeser pun, Glen dan Rizki terpaksa berjalan kaki dari satu lokasi ke lokasi lain. Bekal habis, tenaga terkuras, dan rasa putus asa mulai menguasai.

Dalam kondisi kalut dan kehabisan pilihan, pada Senin dini hari, 22 September 2025, pukul 02.27 WIB, Glen dan Rizki nekat melakukan tindakan terlarang. Mereka mencuri beberapa unit ponsel. Dengan dua tas berisi barang curian, keduanya mendatangi rumah temannya, Samuel.

Di hadapan Samuel, Glen dan Rizki mengakui perbuatan mereka tanpa berkelit. Tak ada amarah, hanya keprihatinan dan nasihat. Tak lama berselang, dua orang lain—Donly dan Bancin—datang menjemput mereka. Rombongan kemudian bergerak menuju Hotel Crystal di Jalan Jamin Ginting.

Saat itu, Glen dan Rizki hanya membawa satu tas, sementara tas lainnya ditinggalkan di lemari kos Samuel. Ketika tas dibuka dan diketahui berisi ponsel hasil curian, Donly dan Bancin sempat marah. Namun setelah mendengar cerita lengkap—tentang upah yang tak dibayar, perut kosong, dan niat sekadar bertahan hidup—rasa iba muncul.

Karena keterbatasan uang, Donly dan Bancin akhirnya bersedia membeli dua unit ponsel secara mencicil, dengan uang muka Rp500 ribu.

Namun di saat yang sama, situasi di sisi lain mulai berubah drastis. LS, abang kandung pemilik Promo Cell, diduga memaksa Tiara, seorang karyawan perempuan yang bekerja sebagai kasir, untuk menelepon dan memancing Glen serta Rizki. Ancaman dilontarkan—jika Tiara menolak, ia disebut akan dipenjarakan.

Dalam kepolosan dan tanpa rasa curiga, Glen dan Rizki memberi tahu lokasi mereka. LS kemudian memaksa Tiara untuk menemui keduanya dan memastikan keberadaan Glen serta Rizki di lokasi tersebut.

Momen inilah yang menjadi titik awal rangkaian peristiwa lebih kelam—penganiayaan, intimidasi, dan jeratan hukum—yang akan mengubah hidup Glen dan Rizki selamanya.

Read more