Pahlawan di Usia Dini

Bali – Jika ada pendapat yang mengatakan mustahil untuk menciptakan perubahan di masa kini, hal itu akan dibantah Melati Wijsen dan Isabel Wijsen. Enam tahun silam anak berusia 12 dan 10 tahun ini menggegerkan Bali dengan niatnya untuk melarang masyarakat Bali menggunakan kantong plastik.

Dampak lingkungan dengan pemakaian plastik yang terlalu berlebihan ini membuat anak seusianya terketuk untuk membuat satu gerakan untuk tidak menggunakan kantong plastik. Langkahnya ini membuahkan hasil yang positif meski dengan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang belum memadai. Mereka berdua tetap mantap untuk terus berjuang.

“Sekarang sudah ada 35 lokasi di seluruh negara yang mengikuti Bye Bye Plastic Bags, mereka semua mengikuti langkah yang kami lakukan dan itu atas kemauannya sendiri,” kata Melati Wijsen.

Dua remaja yang baru-baru ini terpilih menjadi CNN Young Wonders itu sekarang masih terus berusaha untuk memberikan dampak yang positif dengan adanya kegiatan di Bye Bye Plastic Bags. Membuat acara bersih-bersih di Bali dan sekitarnya untuk benar-benar menunjukkan langkah yang nyata bagi lingkungan.

“Mogok makan selama dua hari, untuk mendapatkan tanda tangan Gubernur Bali agar mau mengesahkan peraturan tentang pelarangan menggunakan kantong plastik. Ini terinspirasi oleh Mahatma Gandhi. Dia role model-nya.”

Sungguh keteguhan yang luar biasa dari dua orang anak ini mampu membuat perubahan besar bagi lingkungan. Bahkan sekarang mereka berdua telah menerbitkan dua buku. Isinya merupakan perjalanan selama lima tahun mengadakan kampanye pelarangan kantong plastik yang mereka beri nama Bye Bye Plastic Bags. Buku keduanya juga akan segera rilis, isinya juga sangat menarik, yaitu tentang bagaimana kiat-kiat untuk bisa mengubah lingkungan menjadi lebih baik.

Buku ini layak juga dibaca anak sekolah dasar (SD). Mereka berharap anak-anak SD bisa seperti mereka mampu memperjuangkan mimpinya. Seberapa besar mimpi itu, jika yakin untuk menggapainya, mimpi itu akan menjadi kenyataan. “Itu juga penting, untuk bapak-bapak dan ibu-ibu di sini, anak harus selalu didukung agar bisa meraih mimpinya. Bagaimana anak muda bisa bergerak meraih mimpi dan menjadi hero jika tidak ada dukungan dari kalian?” tanya Melati Wijsen.

Sebagai pendiri dari Bye Bye Plastic Bags mereka juga ingin terus mengembangkan usaha yang lebih menghasilkan dari sampah plastik ini. Keduanya kemudian memberdayakan ibu-ibu di daerah pegunungan di Bali untuk membuat tas daur ulang dari plastik bekas. Nama usahanya merupakan Mountain Mamas, sistem kerjanya pun tidak mengikat untuk para ibu-ibu di desa sehingga para pekerja ini bisa membuat tas sesuai dengan kemampuan setiap harinya.

Keuntungan dari hasil kerja ini juga 50% akan disumbangkan kembali ke desa para ibu-ibu yang ikut bekerja di Mountain Mamas. Nantinya uang hasil dari penghasilan ini akan dialokasikan untuk layanan kesehatan dan peningkatan pendidikan di desa yang mendapatkan sumbangan.

 

 

Sumber : Media Indonesia

Editor : Awlina login by Polda Jateng