Pengamat: Lone Wolf Lahir dari Dendam dan Sentimen Pribadi

bhinnekanusantara.id – Pengamat Hankam dan Intelijen Susaningtyas Kertopati meminta pihak kepolisian tidak mengabaikan sentimen pribadi seseorang atau anggota teroris. Niat aksi lone wolf atau teroris yang bergerak tanpa koordinasi jaringan bahkan bids muncul karena ada rasa dendam dari pelaku.

“Dalam kasus bom Medan tentu yang utama kita harus ketahui embrio adanya aksi lone wolf, seseorang bertindak atas kemauan sendiri. Jangan abaikan sentimen pribadi yang muncul dalam niatan pelaku, bisa karena dendam juga,” kata Susaningtyas Kertopati, Jumat (15/11).

Susaningtyas mengingatkan pemberantasan terorisme bukan hanya tanggung jawab polisi. Secara integritas, departemen agama, sosial dan pendidikan juga harus ikut andil dalam menekan paham radikal.

“Juga pelibatan tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh budaya di tengah masyarakat,” ujarnya.

Dia meminta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerja lebih keras menanggulangi paham radikal dengan turun langsung ke masyarakat dan organisasi masyarakat (ormas) untuk memberi pendidikan. Dia mengapresiasi kinerja BIN.

“Dengan terbentuknya Koopssus TNI, maka upaya pemerintah memberantas teroris akan semakin fokus dan tuntas,” tuturnya.

Dia optimistis dengan kinerja Koopssus TNI dan Densus 88 Polri, pemberantasan terorisme berjalan dengan baik. Apalagi, lanjut dia, jika seluruh masyarakat ikut memerangi paham radikal. Setiap warga juga sebaiknya memilih guru agama yang benar.

“Radikalisme dan ekstremisme di Indonesia memang harus dilawan oleh semua komponen bangsa. Saat ini terorisme adalah musuh bersama yang memang menjadi target bersama TNI-Polri,” pungkasnya.

 

sumber : mediaindonesia

editor : dealova @polda jateng

#agussaibumi