Polda Jateng Dorong Penguatan Literasi Politik Pelajar di Era Digital

Polda Jateng Dorong Penguatan Literasi Politik Pelajar di Era Digital

Semarang – Direktorat Intelkam Polda Jawa Tengah menyelenggarakan Focus Group Discussion(FGD) yang diikuti oleh pelajar SMA dan SMK se-Kota Semarang. Kegiatan ini bertujuan menguatkan literasi politik pelajar agar lebih bijak dalam menghadapi derasnya arus informasi digital.

Acara bertema “Peran Generasi Muda dalam Menyikapi Dinamika Politik yang Berkembang di Media Sosial” ini digelar di Oak Tree Hotel, Semarang, Selasa (18/11/2025). Direktur Intelkam Polda Jateng yang dalam hal ini diwakili oleh Wakil Dirintelkam Polda Jateng menekankan pentingnya literasi politik.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah, Agung Hariyadi, menyoroti potensi manipulasi opini publik melalui media sosial. Ia mengingatkan, hoaks masih menjadi ancaman serius dalam kontestasi politik.

“Banyak informasi yang berseliweran di media sosial, kalau salah menelaah, bisa terjerumus. Meski hoaks di Jawa Tengah menurun sejak 2020 hingga 2025, kewaspadaan tetap diperlukan,” ujarnya.

Narasumber kedua, Kepala Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih KPU Jawa Tengah, Akmaliyah, menjelaskan pentingnya peran pemilih pemula. Ia menyatakan, pemilu berintegritas bukan hanya tanggung jawab penyelenggara.

“Pemilu yang jujur dan adil membutuhkan dukungan pemilih, peserta pemilu, stakeholder, hingga pemerintah. Generasi muda adalah agent of change yang menentukan arah demokrasi kita,” ungkapnya.

Sementara itu, Analis Kurikulum dan Pembelajaran SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Subeno. Ia menekankan pentingnya literasi digital dalam pembentukan karakter pelajar.

“Media sosial harus digunakan dengan santun, kreatif, dan bertanggung jawab. Sikap bijaksana adalah bekal utama menghadapi dinamika politik,” ucapnya.

Ia menegaskan, pendidikan nasional bertujuan membangun peradaban bangsa yang bermartabat. Ditekankan pula delapan dimensi profil pelajar Pancasila yang relevan dalam perkembangan digital saat ini.

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Berbagai pertanyaan kritis muncul dari peserta, seperti isu kepercayaan publik, polarisasi politik di sekolah, hingga derasnya pengaruh buzzer.

FGD ditutup dengan pesan reflektif bagi seluruh peserta untuk menjadi generasi yang lebih cerdas dalam bermedia sosial. “Tanpa kemampuan menelaah, kita bisa mudah terjebak opini menyesatkan,” katanya.

sumber: rri

Read more