Polda Jateng Kirim Tim Khusus ke Keraton Agung Sejagat

bhinnekanusantara.id – Polda Jawa Tengah mengirimkan tim khusus ke Purworejo untuk mengumpulkan keterangan terkait ramainya pemberitaan soal munculnya “kerajaan” Keraton Agung Sejagat.

“Hari ini tim bergerak ke Purworejo untuk melakukan pendalaman dan mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi,” ujar Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, di Mapolda Jateng, Semarang, Selasa (14/1/2020).

Tim khusus dipimpin Direskrimum Polda Jateng Kombes Pol Budi Haryanto.

Kombes Budi Haryanto menambahkan, pihaknya akan meneliti apakah ada unsur makar atau memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diniatkan pendiri dan pengikut keraton tersebut.

“Kalau perbuatan dan kegiatan tersebut bertujuan memisahkan diri dari NKRI kita jerat dengan pasal makar 106 KUHP,” ujar Budi.

Sementara itu, pengikut KAS mulai buka suara. Namono, warga Desa Pogungjurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, itu mengaku kenal dengan pemimpin KAS, Totok Santosa sejak bergabung di Jogja DEC.

“Dulu saya memang ikut DEC (Jogja Dec), tapi keluar, mau ngaso, di hati kurang sreg,” kata Namono yang diberi pangkat Jendral dalam Keraton Agung Sejagat.

Jarak rumahnya sangat dekat dengan bangunan yang dianggap Keraton Agung Sejagat.

Pria lanjut usia ini mengaku mengikuti Raja Keraton Agung Sejagat, Totok Santosa karena percaya dia adalah Sang Ratu Adil yang ditakdirkan menjadi pemimpin bumi.

Namun, dia menjawab tidak tahu saat ditanya apakah pemimpin Jogja DEC dan Keraton Agung Sejagat adalah orang yang sama.

Namono juga tidak mengaku ketika ditanya berapa biaya untuk menjadi pengikut kerajaan.

“Saya ini orang tidak punya, dari mana punya uang untuk membayar,” katanya.

Namun, istri Namono, Utami mengatakan hal sebaliknya. Menurut Utami, Namono sering meminta uang untuk kepentingan kegiatan Keraton Agung Sejagat.

“Minta saya itu sudah banyak, ya ada sekitar Rp 2 juta. Yang uang dia sendiri saya tidak tahu berapa. Selama tiga tahun gabung, suami saya belum pernah ‘digaji’, katanya jenderal tapi tidak pernah digaji,” kata Utami.

Tak hanya uang, setiap ada acara, para istri anggota Keraton Agung Sejagat juga diharuskan memasak untuk acara. Biasanya mereka patungan seadanya.

Sumarmi, warga desa yang rumahnya berada persis di samping bangunan keraton mengaku memperoleh informasi bahwa setiap anggota yang mendaftar menyetorkan sejumlah uang.

“Saya tanya ke anggota Keraton Agung Sejagat, untuk level pejabat kecamatan bayar Rp 3 juta, level pejabat kabupaten Rp 7 juta dan level gubernur Rp 14 juta,” ujarnya.

Seorang pegawai BMT di Purworejo juga mengaku, ada beberapa nasabahnya yang sampai meminjam uang puluhan juta.

“Nasabah saya P, pernah cerita kalau dijanjikan gaji Rp 10 juta per bulan. Kalau memang gajinya besar ya pasti nyicilnya lancar. Orang-orang tersebut (anggota Keraton Agung Sejagat) nyicil saja susah,” ujarnya, yang minta namanya dirahasiakan.

Pengikut Keraton Agung Sejagat kebanyakan berasal dari luar Kabupaten Purworejo. Mereka mengaku dari Yogya, Klaten bahkan ada dari Lampung

 

sumber : beritasatu

editor : dealova @polda jateng

#agussaibumi