oleh

Ribuan Pekerja Tewas Demi Rampungkan Jalan Anyer Panarukan di Demak

Demak – Penelusuran Jalan Raya Pos atau lebih dikenal Jalan Anyer Panarukan kali ini membahas sekitar Demak, Jawa Tengah.

Jalan poros yang dibangun Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels itu memanjang dari ujung Barat hingga Timur Pulau Jawa.

Perjalanan panjang napak tilas Jalan Raya Pos tiba di seputar Jawa Tengah. Dari Anyer telah terhimpun 598 kilometer dari titik awal Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels pada 1808 menancapkan tonggak nol kilometernya di Anyer, Jawa Barat.

Jalur Daendels dianggap berperan besar dalam upaya membuat kondisi Keraton Demak kian memfosil. 

Jalan dari Semarang menuju Demak relatif mulus lantaran proyek perbaikan jalur pantura yang berlanjut terus-menerus.

Keluar dari kawasan Kota Lama Semarang yang berujung di Jalan Kaligawe, jalan selanjutnya kini bernama Jalan Semarang-Demak yang tercatat membentang sekitar 23 kilometer. 

Jalur menuju timur ini beriringan dengan Kali Demak, hanya lima meter di sebelah utara jalan. Tumpahan sungai dari Semarang ini ibarat kehidupan bagi pemukim setempat.

Sungai yang menghubungkan Kali Tuntang di Demak menjadi kebutuhan primer warga di sana. Mereka menjadikan sungai selebar delapan meter ini untuk kegiatan mandi, cuci, dan mungkin aktivitas dapur. 

Guru besar bidang sejarah Universitas Negeri Semarang, Prof Dr Wasino menyebut, jalur ini, kemudian diapit oleh sungai Iainnya di sebelah selatan.

Lalu, seiring penyurutan dan aktivitas pembangunan menjelang abad ke-20, tambah dia, hanya tersisa sungai di sebelah utara. 

“Jalur itu tak selebar sekarang, hanya ukuran satu gerobak kereta kuda,” katanya seperti dikutip dalam Buku Napak Tilas Jalan Daendels Karya Angga Indrawan. 

Satu hal yang menjadi catatan Wasino secara keseluruhan. Semarang, Demak, Kudus, Pati, Juwana, dan Rembang (Pulau Jawa) hingga pengujung abad ke-17 merupakan daratan yang terpisah dengan Jepara di sebelah utara.

Dalam catatannya mengutip sejarawan Prancis, Denys Lombard, sebelum abad ke-17, Demak terletak di ujung selat yang memisahkan dirinya dengan Pegunungan Muria (1.602 mdpl) di timur Jepara.

Aktivitas perdagangan antara Demak, Rembang, dan beberapa wilayah di utara dilakukan dengan ekspedisi kecil melalui perairan. 

“Ini dibuktikan dengan melihat posisi Masjid Demak yang ternyata di bagian belakangnya merupakan bekas sungai,” ujar Wasino. 

Sepanjang ke timur dari Demak hingga Rembang, pusat perekonomian, politik, dan keagamaan berada di Demak yang saat itu dipimpin Raden Patah (1478-1518).

Hal itu berdampak pada pembangunan Jalan Raya Pos yang menghubungkan dua kota ini seabad kemudian.

Pekerja Jalan Raya Pos, budak-budak yang kurang makan, dipaksa menimbun dengan galian tanah di bekas rawa dari sisa air laut yang menyusut.

Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya, Jalan Raya Pos Jalan Daendels, menyederhanakannya dengan kalimat “pengurukan menjadi pekerjaan pokok”. 

Bisa dibayangkan pedihnya proyek pengurukan. Pekerja diadang oleh rawa hingga kontur tanah yang posisinya menjorok dalam pada ratusan meter akibat bekas laut dalam maupun teluk dangkal.

Jika dihitung pastinya, proyek pengurukan bisa mencapai panjang 133 kilometer lantaran jalur dewasa ini yang menghubungkan Semarang dengan Rembang.

Sebagian besar rawa-rawa yang masuk dalam proyek pengurukan, konon dan bahkan hampir pasti, merupakan habitat binatang buas semisal ular dan buaya