oleh

Sarang Tawon Makin Meresahkan

bhinnekanusantara.id – Permasalahan sarang tawon masih terus dialami masyarakat di beberapa daerah. Tak ayal banyak masyarakat yang melakukan permohonan penanganan sarang tawon kepada Tagana Banyumas. Akhir pekan lalu, Tagana Banyumas pun kembali melakukan operasi tangkap tawon (OTT) di beberapa wilayah.

Koordinator Tagana Banyumas Ady Candra mengatakan, operasi tangkap tawon dilakukan pada Jumat (8/3) malam lalu. Tak tanggung-tanggung, empat sarang tawon berhasil diamankan dalam satu malam. “Sasaran pertama adalah rumah Vino warga Kedungrandu Regency, Patikraja.

Kami mendapat laporan bahwa di rumah tersebut terdapat sarang tawon yang cukup besar,” ujarnya. Dalam operasi tersebut, sarang tawon jenis Engan berhasil diamankan tim Tagana. Padahal, sarang tersebut berada di atap rumah. Selesai dari rumah Vino, Tagana beralih ke rumah milik Sahudi warga Jalan Pramuka Purwokerto Selatan.

Dari rumah ini, Tagana juga berhasil mengamankan sarang tawon Engang yang berada di atap teras samping rumah. “Rampung dari rumah Sahudi, tim bergerak menuju Muntoib warga Jalan Anggrek Dalam Kelurahan Gendeng, Purwokerto Utara. Tawon jenis engang berada dibagian atap susun berhasil diunduh,” jelasnya.

Lokasi terakhir malam itu, Tagana melaksanakan OTT di rumah Iwan warga Karangkemiri, Karanglewas. Tawon jenis baluh yang bersarang di pohon Mangga depan rumah berhasil diamankan. Dia menjelaskan, sejak awal OTT beberapa waktu silam, permintaan penanganan sarang tawon dari masyarakat terus meningkat.

Hal ini disikapi Tagana dengan mengatur jadwal sedemikaian rupa agar efektif. “Dalam melakukan penanganan, kami harus efektif sehingga kerap dilakukan penjadwalan ulang agar bisa ditangani sekaligus, tidak satu per satu tiap malam. Bahkan, faktor cuaca juga menjadi perhatian kami sebelum melakukan OTT,” ungkapnya.

Cuaca hujan akan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan OTT. Juga berpengaruh terhadap keselamatan tim OTT Tagana jika memaksa melakukan penanganan saat hujan turun. “Apabila hujan gerimis, maka penanganan kadang ditunda karena apabila posisi sarang ada dibagian atap, maka genteng dalam kondisi licin. Hal ini menjadi hambatan petugas untuk melakukan penanganan ketika harus naik keatas genting,” tegas Ady Candra.

Dia menambahkan, penanganan sarang lebah dilakukan untuk memastikan warga selamat dan aman. Pasalnya, keberadaan sarang tawon ukuran besar di pemukiman, sangat meresahkan dan mengancam keselamatan warga. “Warga yang merasa resah dan tak sanggup menangani sendiri, melapor ke Tagana meminta bantuan penanganan. Sebab, jika tidak segera ditangani muncul kekhawatiran dan juga mengganggu aktivitas warga,” imbuh Ady.

 

 

Sumber : Radar Banyumas

Editor : Aishwarya login by Polda Jateng