Selain Pandemi, Warga Pantura Juga Dipusingkan Rob

bhinnekanusantara.id – Pandemi Covid-19 belum selesai. Kini, warga kembali terimpa bencana. Sejumlah daerah di Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah tengah dilanda rob parah. Ratusan rumah tergenang limpahan air laut pasang tersebut. Di antaranya, wilayah Pantura Brebes, Tegal, Kota/Kabupaten Pekalongan, Kota Semarang hingga Sayung Demak. Bahkan rob kali ini menurut warga yang terparah selama 2020.

Pantauan di Jalan Kaligawe Semarang, rob menenggelamkan jalan dan saluran di sampingnya.

Menurut penuturan Farel Setiawan, salah seorang pengatur lalu lintas alias Pak Ogah, fenomena rob ini sudah terjadi sejak beberapa hari lalu. Namun hanya di waktu tertentu saja. “Biasanya rob terjadi mulai pukul 14.00, hingga nanti sekitar pukul 21.00 sudah surut lagi,” katanya.

Akibat direndam rob, arus lalu lintas mengalami kemacetan sepanjang 300 meter. Tak sedikit kendaraan yang mesinnya ngadat akibat mesinnya kemasukan air.

Salah satu pengendara motor, Haryono, warga Sayung mengaku, kesulitan saat melawati jalan yang ada di dekat rumah pompa Kaligawe. Beberapa jalan berlubang menyebabkan pengendara terperosok. Beruntung mesin motornya tidak mati.  “Puji Tuhan motornya gak mati, tadi saya lihat ada sepeda motor yang ngadat, ada warga yang menjual jasa mendorong juga,” ujarnya.

Rob di Kawasan Industri Terboyo juga parah. Ketinggian rob mencapai setinggi pinggang orang dewasa. Para karyawan pabrik di kawasan ini memilih memarkir kendaraan di tempat jauh. Mereka menuju pabrik dengan berjalan kaki menerjang rob.

Wartawan koran ini melakukan pantauan ke Kawasan Industri Terboyo pada Kamis (4/6) siang, bergerak dari gapura kawasan tersebut menuju ke arah utara. Melintasi jalan utama. Sampai depan Rumah Pompa Kali Sringin, jalanan kering. Namun bekas dan ketinggian rob dapat dengan mudah dilihat. Salah satunya dari garis genangan air yang membekas di dinding pagar pabrik-pabrik sekitar.

Genangan air baru terlihat ketika wartawan koran ini bergerak makin ke utara. Area Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) PT Lumbung Energi Bumi, terendam rob. Setinggi betis orang dewasa. Dapat dilihat dari seorang karyawan yang tengah berdiri di tengah rob di SPPBE tersebut.

Puluhan orang juga berkerumun di depan gerbang SPPBE tersebut. Mereka tengah membikin tanggul sederhana dengan karung yang diisi pasir. Sayang sekali wartawan koran ini tak memperoleh gambar kejadian. Seorang di lokasi yang mengaku karyawan SPPBE menolak diwawancarai dan tidak mengizinkan mengambil gambar. Ia bahkan meminta wartawan koran ini membuka galeri ponsel untuk dicek. Jika sempat memotret, diminta menghapusnya.

Tak jauh dari depan SPPBE tadi, genangan air sudah dapat terlihat. Tak dalam, hanya setinggi mata kaki. Tampak tiga orang tengah melintas menerjang genangan itu. Mereka karyawan PT Ebako Nusantara, yakni Desti, Sofa, dan Fahrudin.

“Kami izin keluar kantor untuk memarkir motor di dekat Rumah Pompa Kali Sringin. Sebab, area parkir pabrik tempat kami bekerja tergenang air. Kira-kira setinggi 60 sentimeter,” kata Desti.

Menurut Desti, makin sore air makin tinggi. Rob mulai datang sekitar pukul 16.00 atau 16.30. Surut kurang lebih pada pukul 21.00. Namun terkadang air naik kembali. “Jika motor tidak segera dipindah ke sana (dekat Rumah Pompa Kali Sringin), nanti pulang kerja susah. Rob bisa setinggi pinggang orang dewasa. Motor pasti mogok. Jadi, para karyawan memilih menerjang rob jalan kaki. Pakaian basah sudah biasa,” ucap Sofa.

Menurut Fahrudin, jarak dari Rumah Pompa Kali Sringin menuju PT Ebako Nusantara nyaris satu kilometer. Jika sore, rob menggenangi hampir seluruh jalan utama Kawasan Industri Terboyo.

“Jadi kami berjalan menerjang rob sejauh nyaris satu kilometer. Rob di sini selalu terjadi tiap tahun. Jadi, bagi karyawan sudah menjadi hal biasa,” ujarnya.

Ipan, penjaga parkir motor karyawan di Rumah Pompa Kali Sringin mengaku sempat mendapati karyawan yang jok motornya kemasukan air. Menurutnya, hal itu terjadi karena karyawan tersebut nekat menerjang rob saat pulang kerja.

“Karyawan yang pulang sore, memilih memarkir motor di sini. Sebab, tak ingin motor mereka rusak. Memilih berjalan kaki. Pabrik yang paling jauh bisa berjarak satu kilometer dari sini,” tutupnya.

Ratusan Warga Kota Pekalongan Mengungsi

Ratusan warga Kota Pekalongan yang rumahnya terendam rob mengungsi di sejumlah tempat.  Saat ini, sebanyak 40 orang mengungsi di musala, 7 orang di balai pembibitan perikanan Unikal, dan ratusan pengungsi mandiri. Juga di Masjid Al Aqso, Kelurahan Krapyak, pekalongan Utara.

Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi bersama Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mochammad Effendi kemarin  menyambangi para pengungsi ini.  Dalam kunjungannya, kapolda  menyerahkan sejumlah bantuan berupa paket sembako, makanan ringan, serta karpet agar dapat langsung dimanfaatkan oleh warga korban banjir di pengungsian.

Akibat banjir rob di Kota Batik, sejumlah fasilitas umum terendam, seperti Jalan Kusuma Bangsa dengan ketinggian 30 hingga 50 sentimeter. Selain itu, kantor Kecamatan Pekalongan Utara, Koramil Pekalongan Utara, kantor perbankan, masjid di Kelurahan Krapyak dan jalan depan Kampus IAIN Pekalongan juga ikut terendam.

Beberapa lokasi lainnya terdampak rob ini antara lain Perumahan Slamaran dengan ketinggian mencapai 30 hingga 70 sentimeter, Bugisan, Panjang Wetan, Panjang Baru sekitar 30 sentimeter, Jalan Merak, Jalan Semarang, Jalan Surabaya, Jalan Patiunus, dan Jalan Kutilang dengan ketinggian air 15 sentimeter. Kemudian, wilayah Kelurahan Tirto, Degayu, Pasir Kraton Kramat, Pabean, dan permukiman di sekitar bantaran sungai berdekatan Perumahan Gama Permai.

Kapolda berpesan agar masyarakat tetap menjaga kesehatan dan melaksanakan protokol keamanan dan kebersihan. Tidak lupa, ia juga mengajak masyarakat untuk saling peduli terhadap sesama. “Masyarakat yang sekiranya memiliki rezeki lebih khususnya pengusaha-pengusaha di Pekalongan bisa buat social bonding bersama-sama. Jadi, yang berkecukupan membantu yang berkekurangan” ajaknya.

Selain menyambangi warga terdampak, kapolda juga meninjau dapur umum Brimobda guna mengecek persiapan penjaminan logistik pengungsi. Pihaknya memastikan 1000 porsi makanan akan selalu tersedia untuk pengungsi setiap harinya.

Dayat, warga Krapyak, Kota Pekalongan, yang terdampak rob mengatakan, tadi pagi baru saja ia bersama keluarganya mengungsi di masjid Al Aqso. Ia memutuskan untuk mengungsi ketika mengetahui gelombang dari Pantai Pasir Sari semakin tinggi. Menurut Dayat, gelombang kemarin adalah yang terparah sejak Minggu.

“Subuh tadi gelombangnya sangat tinggi. Akhirnya saya sekeluarga memutuskan untuk mengungsi karena takut,” ungkapnya.

Kamis (4/6/2020) tinggi gelombang di pesisir Pantai Pasir Sari  mencapai satu meter. Adapun limpasan air yang menuju ke daratan setinggi lutut orang dewasa. Selain Dayat, beberapa warga yang sebelumnya menetap di rumah masing-masing tampak mulai mengemasi barangnya untuk mengungsi.

 

Sumber: radarsemarang

editor : dealova @polda jateng #polres wonogiri #polres brebes