Selametan Wiyosan, Bentuk NGURI-NGURI BUDAYA ADAT JAWA

bhinnekanusantara.idDalam bentuk nguri-uri budaya Adat Jawa warisan leluhur nenek moyang kita telah diwujudkan dengan Selametan Weton (Wiyosan) hari kelahirannya,  seperti halnya yang dipaparkan oleh Dalang Tiban Ki Joko Susanto Gatut Koco yang akrab dengan  panggilan Romo Joko Gatut Koco, yang tinggal dikediaman Joglo Kamardikan Jalan Candhi Prambanan Tengah VI Kelurahan Kalipancur,  Kec Ngaliyan Kota Semarang.

Romo Joko Gatut Koco menyampaikan, bahwa semua Manusia Hidup itu dari sejak dilahirkan tidak dalam sendirian, melainkan dari Tuhan Yang Maha Kuasa telah dibekali kawan/saudara sebagai pendamping hidupnya.

Dalam istilah Jawa, disebut Sedulur Papat Limo Pancer Kakang Kawah Adhi Ari-ari, konon yang setiap saat menjadi saksi, disegala perbuatan dikehidupan manusia hingga akhir hayatnya.

Terkait dengan Selametan Weton/Wiyosan untuk memperingati hari Kelahiran tersebut,  semata-mata untuk Mewujudkan rasa Syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Tunggal)  atas segala Rahmat dan Limpahannya yang tidak terhingga.

Selametan Wiyosan di Joglo Kamardikan

“Hal ini tidak akan menjadikan kita Musyriq, karena sebagai bentuk upaya kita mengucap syukur Tuhan Yang Esa melalui sedekah makanan setelah kita beri do’a untuk kita makan bareng – bareng,” jelas Ketua Yayasan Jawa Agung Nusantara, yang didampingi oleh Kyai Hamdan saat bersama keluarga merayakan hari kelahirannya, menurut perhitungan Jawa di kediamannya beberapa waktu lalu, akhir April 2019.

Dalam Selametan Weton atau Pengetan hari Kelahiran Romo Joko Gatutkoco, dimeriahkan pula berbagai macam hiburan. Selain Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk, dimeriahkan pula dengan Karawitan Orkes Keroncong dan Campur sari dari berbagai sanggar kesenian.

Selain itu, kegiatan tersebut dihadiri pula oleh masyarakat yang tinggalnya tidak hanya berdomisili di Kota Semarang, dari berbagai daerah luar kota Semarang.

“Ya kita datang ke Joglo Kamardikan ini. Selainuntuk nguri – nguri budaya Jawa, juga untuk ngalap berkah syukur kepada Tuhan Yang Esa,” jelas salah satu pengunjung yang datang dari luar Kota Semarang.

Menurut Dalang Ruwat ini, bahwa kegiatan yang dijalankan ini merupakan bagian dari upaya untuk introspeksi diri. Tentang bagaimana menjalankan hidup dan kehidupan, serta untuk menjaga amanat yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Saat disinggung Tentang julukan Dalang Tiban, dijelaskan oleh sesepuh Kasepuhan Kejawen ini, bahwa beliau  tidak pernah belajar atau berguru dari seorang Dalang (tanpa guru pedalangan) sebelumnya, namun beliau dapat menguasai ilmu pedalangan dengan baik dan dapat memainkan Wayang Kulit dengan baik.

Mulai pemahaman terhadap Sastra Wayang/pedalangan baik dari Alur Cerita atau Lakon Wayang, hingga sanggit pakeliran dan cara memainkan Wayang Kulit dapat dikuasainya.

 

Penuilis  : Bagus SR

Editor  : Absa, bhinnekanusantara.id

Silakan berkomentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.