oleh

Sindir JPO Kekinian Jakarta, Faisal Basri Pertanyakan Keamanannya

bhinnekanusantara.id – Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Faisal Basri menggunakan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang lagi hits, pada Selasa (5/3/2019) malam lalu.

Meski dia akui keindahan JPO yang dia gunakan dekat Pintu I Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, tapi masih ada pertanyaan terbesit yang membuat dia penasaran. Yakni, soal keamanan penggunanya.

Dan dia menggambarkan fisik dari JPO yang Instagramable tersebut serta keamanan ketika menyeberanginya. JPO menurutnya tak mesti menarik, terpenting keamanan pengguna paling penting.

“Saya menggunakan jembatan penyeberangan orang (JPO) dekat Pintu I Gelora Bung Karno di depan Graha CIMB menuju halte Transjakarta. Luar biasa—nyaman, indah, dan mewah penuh gemerlap lampu warna warni. Lantainya dari kayu berkilat. Saya tak tahu pasti apakah itu kayu parket atau kayu asli. Dilengkapi pula dengan pegangan tangan dari kayu bulat di ketua sisinya dan pagar jeruji besi sehingga dijamin aman jika terpeselet, tak akan jatuh ke jalan yang tak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan,” ungkapnya dikutip dari Faisalbasri.com, Minggu (10/3/2019).

“Keindahan dan kenyamanan penting, tetapi yang paling penting dan harus diutamakan adalah keamanan pengguna,” katanya sembari mengingatkan pemerintah provinsi DKI Jakarta.

Kemudian, dia coba membandingkan sensasi menyeberang menggunakan JPO yang ada di Halte Dukuh Atas. Yang dia rasakan agak sedikit was-was. Apalagi disaat musim penghujan bila menggunakan JPO kekinian tersebut.

“Saya transit di halte Dukuh Atas menuju Halte Dukuh Atas bawah di sisi gedung kembar Landmark untuk berganti bus Transjakarta jurusan Ragunan. Lantai besi sepanjang penyeberangan menuju halte “bawah” licin jika hujan. Sepanjang JPO itu di kiri-kanannya berpagar besi. Rongga paling bawah cukup lebar yang bisa membuât orang yang berperawakan kecil, khususnya anak-anak, bisa jatuh ke jalan jika terpeleset,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggunakan dana Koefisien Lantai Bangunan (KLB) untuk membangun tiga JPO di kawasan Senayan Jakarta Pusat. JPO yang direvitalisasi menjadi objek kekinian tersebut antara lain, JPO Bundaran Senayan, JPO Gelora Bung Karno dan JPO Polda Metro Jaya.

Adapun dana KLB adalah semacam denda yang diserahkan oleh perusahaan swasta ke Pemprov DKI Jakarta karena membangun gedung melebihi jumlah lantai yang ditentukan.

PT Permadani Khatulistiwa, perusahaan yang harus merogoh kocek dalam-dalam dan mengeluarkan anggaran yang tak sedikit untuk pembangunan tiga JPO ini. Diketahui proyek ini memakan biaya hingga Rp53 miliar.

 

 

Sumber : Akurat

Editor : Awlina IMM Polda Jateng