Siswa SMP di Banyumas Jadi Korban Bullying, Pihak Sekolah Gelar Mediasi

Siswa SMP di Banyumas Jadi Korban Bullying, Pihak Sekolah Gelar Mediasi

BANYUMAS – Sebuah video yang memperlihatkan aksi perundungan terhadap seorang siswa SMP Negeri 3 Kebasen, Banyumas, viral di media sosial dan memicu keresahan publik.

Dalam video tersebut tampak seorang siswa berinisial E mengalami kekerasan fisik oleh teman sekelasnya di lingkungan sekolah.

Peristiwa itu terjadi bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional, saat sekolah tengah menggelar berbagai kegiatan. Menurut keterangan ibu korban, yang disapa S, insiden bermula dari hal sepele.Perlengkapan sekolah

Kronologi kasus perundungan di SMP Negeri 3 Kebasen, Banyumas
Tas milik E dipindahkan oleh pelaku yang juga teman sekelasnya. Ketika E berusaha mengembalikannya, ia dihalangi oleh pelaku.

“Tasnya korban dipindah. Waktu mau balik ke tempatnya, malah tidak diperbolehkan oleh anak yang membully,” ujar S, Minggu (26/10).

S menjelaskan, anaknya sempat berencana melapor ke ruang Bimbingan Konseling (BK), namun sebelum sempat tiba, E justru diserang secara fisik.

“Kemudian korban mau melapor ke BK, namun langsung dihajar,” tambahnya dengan nada prihatin.

Yang mengejutkan, pihak sekolah disebut tidak mengetahui adanya kejadian tersebut, termasuk fakta bahwa videonya telah tersebar di media sosial.

Informasi mengenai perundungan itu justru pertama kali diketahui keluarga dari guru les anak korban.

“Pihak sekolah baru terkejut ketika suami saya langsung datang ke sekolah membawa video itu. Kebetulan saat itu pelaku tidak hadir,” tutur S.

Ia mengaku lebih khawatir terhadap kondisi mental anaknya dibanding luka fisik yang dialami.

“Mungkin untuk saat ini terlihat baik-baik saja, tapi yang jelas mentalnya tidak baik-baik saja,” katanya cemas.

Tidak terima dengan kejadian itu, keluarga E melapor ke Polres Banyumas dan mengajukan pengaduan secara online.

Laporan tersebut membuat pihak kepolisian memanggil Kepala Sekolah SMPN 3 Kebasen, Agus Widodo, untuk dimintai keterangan pada Kamis (23/10).Perlengkapan sekolah

Menanggapi kasus ini, Agus memastikan pihak sekolah telah mengambil langkah lanjut dengan memfasilitasi mediasi antara korban dan pelaku bersama orang tua masing-masing.

Proses mediasi digelar di sekolah pada Senin (27/10) dan berlangsung dengan penuh keharuan.

“Hari ini sudah diadakan mediasi oleh pihak sekolah bersama dengan anak dan orang tua yang bersangkutan. Hasilnya sudah saling memaafkan,” ujar Agus.

Agus menambahkan, pihak sekolah awalnya tidak mengetahui bahwa video kejadian tersebut sudah diunggah ke media sosial.

“Kami pihak sekolah tidak tahu kalau video tersebut diunggah ke medsos. Sebelum video tersebut viral, korban sudah bermain Uno bersama dengan diduga pelaku,” ungkapnya.

Sebagai bentuk penanganan lebih lanjut, sekolah juga melakukan home visit untuk menggali informasi dari kedua belah pihak sebelum mediasi dilaksanakan.

Langkah ini dilakukan agar pihak sekolah dapat memahami latar belakang peristiwa dan memberikan solusi yang adil.

Read more