Soal OTK Penyerang Wakapolres Karanganyar, Polisi Tunggu Hasil Autopsi

bhinnekanusantara.id – Jenazah Orang Tak Dikenal (OTK) penyerang Wakapolres Karanganyar Kompol Busroni dan sopirnya Bripda Hanif Ariyono akan dibawa ke RS Bhayangkara Semarang guna menjalani Autopsi.

Autopsi dilakukan guna mendalami misteri  pelaku yang telah menyebabkan luka ringan ditangan wakapolres dan sayatan  senjata tajam (sajam) di leher dan punggung Bripda Hanif. Pelaku yang tewas setalah kehabisan darah usai 3 timah panas bersarang ditubuhnya, diketahui tidak membawa identitas apapun.

“Ini sudah tim gabungan yang diutus pak Kapolda, dan inafis, reskrim, intel dan densus 88 telah mendalami siapa pelaku ini,” kata Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Iskandar Fitriana Sutrisna kepada wartawan di kantornya, Senin (22/6/2020).

Iskandar menjelaskan, hasil autopsi diperlukan untuk memastikan identitas pelaku mulai dari identifikasi kecocokan darah, hingga kesuaian sitik jari pelaku dengan keluarganya. Selain, hasilnya  turut membantu kepolisian dalam mengungkap identitas pelaku juga diperlukan untuk mengungkap motif dan jaringannya.

“Ini nanti akan dirilis jika kita sudah mendapatkan data lengkap tentang siapa pelaku ini, kalau nanti ada keluarganya ante mortem nanti mungkin kita akan cocokan darahnya dengan pelaku termasuk dengan keluarga korban,” terangnya.

Berdasarkan keterangan warga sekitar lokasi susur gunung di jalur pendakian Gunung Lawu Cemoro Kandang, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, sosok pelaku dipastikan bukan warga Karanganyar.

“Kita tanyakan pada warga, tidak ada yang kenal satu pun, artinya bukan warga Karanganyar. Dan beberapa keterangan dari warga mereka sudah bolak-balik pelaku mendatangi kampung itu, sudah dua kali katanya, tapi kita tidak kenal tidak curiga juga,” tuturnya.

Seperti diberitakan RRI sebelumnya, Anggota Polres Karanganyar mendapat serangan OTK saat melaksanakan kegiatan Susur Gunung Lawu Cemoro Kandang, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu (21/6/2020).

Kegiatan itu dalam rangka  HUT Bhayangkara ke- 74, yang mana pembersihan jalur pendakian Gunung Lawu diperlukan jelang new normal karena telah dipenuhi ilalang akibat ditutup selama 3 bulan kemarin. (dealova)