Tewasnya Siswa SMP di Grobogan: Angga Dua Kali Berkelahi Usai Dihina
GROBOGAN - Tewasnya, Angga Bagus Perwira (12), yang diduga menjadi korban bullying teman-teman sekelasnya, kelas VII SMP Negeri 1 Geyer, Sabtu (11/10) lalu, diduga terjadi kekerasan fisik dari teman-temannya.
Penyidik Unit PPA Satreskrim Polres Grobogan, Jawa Tengah masih mendalami kasus tewasnya Angga. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara korban sempat mengalami kekerasan fisik.
Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Rizky Ari Budianto, mengatakan, dugaan perundungan yang dialami Angga kali pertama berlangsung pagi saat kegiatan kolektif, bersih-bersih kelas VII G. Saat itu, remaja putri beraktivitas di dalam ruang kelas, sementara remaja putra di luar ruang kelas.
Di momen itu tiba-tiba salah satu siswa berinisial F mengejek Angga dengan kalimat yang merendahkan. "Kamu cewek tho, sana bersih-bersih di dalam," kata F.
Merespons hinaan itu, Angga lantas terjadi perdebatan. "Aku bukan cewek," tegas Angga sembari menendang F.
Seketika itu keduanya lantas baku pukul hingga berakhir dilerai teman-teman yang lainnya.
"Terjadi perkelahian kemudian dipisahkan dan selesai," kata Rizky, Selasa (14/10).
Selanjutnya, dugaan bullying kembali menimpa Angga di luar ruang kelas yakni sekitar pukul 11.00. Namun, kali ini siswa yang terlibat dalam dugaan perundungan berbeda. Saat itu salah satu siswa pun "mengadu" Angga berduel dengan siswa lainnya.
"Saat korban akan masuk dalam kelas ada yang nyeletuk : kamu beraninya sama siapa ?," ujar Rizky.
Menjawab tantangan itu, Angga lantas menunjuk salah satu siswa. "Aku berani sama A," kata Angga.
Sontak perkelahian di hadapan teman-temannya itu pun tak terhindarkan hingga Angga terjatuh dan kepalanya terbentur lantai.
"Mereka saling mendatangi dan terjadi perkelahian. Kemudian ada yang memisah, namun korban jatuh dan meninggal di situ. Lalu dibawa ke UKS dan sama guru dibawa ke Puskesmas tapi dicek dinyatakan meninggal," ujar Rizky.
Unit PPA Satreskrim Polres Grobogan kemudian berupaya memberikan pendampingan kepada siswa-siswi SMPN 1 Geyer supaya insiden serupa tidak terulang.
"Yang pasti kami melakukan pendampingan termasuk kami mengirimkan tim psikologi dari Polres untuk melakukan kegiatan trauma healing untuk anak-anak di sana agar peristiwanya tidak terulang kembali," pungkasnya.