oleh

TNI Terus Memburu Kelompok Bersenjata di Papua

bhinnekanusantara – Pasukan TNI masih bersiaga di lokasi pe­nembakan di Kabupaten Nduga, Papua, yang menewaskan tiga prajurit saat mengamankan proyek pembangunan infrastruktur Trans-Papua di Distrik Mugi Kabupaten Nduga, Papua, pada Kamis (7/3) lalu.

Kepala Penerangan Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi, mengemukakan, pengamanan tetap dilakukan di tengah upaya TNI untuk memburu kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) pelaku penembakan pimpinan Egianus Kogoya.

Penembakan tersebut menewaskan tiga prajurit, yakni Serda Mirwariyadin, Serda Yusdin, dan Serda Siswanto Bayu Aji.

Aidi juga mengatakan TNI akan melakukan penambahan pasukan dalam waktu dekat. “Sampai saat ini situasi kondusif. Mengenai pengamanan, kami akan tetap melakukan upaya penegakan hukum,” ujar Aidi ketika dihubungi Media Indonesia, tadi malam.

Ia menambahkan TNI melalui Kodam XVII masih fokus pada pergeseran pasukan untuk pengamanan dan pengerjaan jembatan yang akan dibangun di jalur Trans-Papua.

“Tadi pagi juga kita melaksanakan proses embarkasi. Ada 600 prajurit tiba dari Makassar ke Timika. Pasukan itu akan didorong untuk mengamankan dan mengerjakan 21 titik jembatan,” jelasnya.

Aidi mengaku pihaknya tetap mengejar para pelaku yang diduga masih bersembunyi di dalam hutan. Namun, upaya itu mengalami kendala lantaran 32 distrik di Kabupaten Nduga sulit dijangkau dengan angkutan darat. Menyusul penembakan terhadap TNI tersebut, anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKS, Sukamta, mendesak pemerintah harus segera mengambil langkah strategis untuk menumpas KKSB tersebut.

Sukamta mengatakan salah satu langkah strategis itu ialah dengan membenahi otonomi khusus (otsus) di Papua. Pembenahan otsus dianggap akan mampu menghadirkan pemerataan di Papua dalam berbagai hal. Selain itu, perbaikan cara diplomasi juga harus dilakukan pemerintah. Pendekatan yang dilakukan untuk menumpas KKB dan OPM harus lebih maksimal, baik di dalam maupun luar negeri.

Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PPP, Arwani Thomafi, mengatakan peristiwa di Papua menjadi ancaman serius terhadap kedaulatan NKRI. Motif penyerangan itu sudah bukan lagi kriminal biasa, melainkan membuat teror bagi keamanan nasional dan ancaman terhadap NKRI.

“Aparat harus tegas. Penyerangan ini harus dihentikan. Jangan sampai negara kalah oleh teror gerombolan bersenjata,” ujar Arwani.

Karena dugaan motifnya bukan lagi kriminal biasa, aparat TNI harus dilibatkan tanpa mengesampingkan peran Polri dalam pemulihan keamanan di Papua. Peristiwa tersebut juga menunjukkan bahwa eksistensi gerakan separatis di Papua masih ada.

Sementara itu, suasana duka dan tembakan salvo mengiringi pemakaman Sertu Anumerta Mirwariyadin di Desa Nipa, Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima, kemarin.

 

Sumber : Media Indonesia

Editor : Bhuwananda IMM Polda Jateng