Tokoh Masyarakat dan Agama Punya Peran Strategis Cegah Penyebaran Covid-19 di Wilayah Banjarnegara

Bhinnekanusantara.id, Banjarnegara – Tokoh agama dan masyarakat dinilai memiliki peran yang sangat penting pada masa pandemi Covid-19 sekarang ini. Di antaranya dalam menyosialisasikan pentingnya protokol kesehatan kepada umat. Hal itu terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat yang digelar atas kerjasama lintas sektoral Sat Binmas Polres Banjarnegara, Polsek Bawang, Dinkes Banjarnegara, UPTD Puskesmas Bawang, Camat Bawang, dan Sarsipol di Desa Wanadri Kecamatan Bawang, Senin (16/11).

Kapolres Banjarnegara AKBP Fahmi Arifrianto, SH, SIK, MH, M.Si melalui Kasat Binmas AKP Rusmiyatun, SE, mengatakan, para tokoh punya peran dalam upaya pencegahan penyebaran covid-19 dan menjaga kondusifitas Kamtibmas.

“Para tokoh dapat membahasakan sikap patuh mencegah Covid seperti mengenakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak dan tidak menggelar acara secara besar-besaran dengan bahasa yang mudah diterima masyarakat,” ujarnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Alif Baa Mantrianom KH Khayatul Makky merasa geram terhadap warga yang tak patuhi protokol kesehatan di masa pandemi saat ini, dia menegaskan jika ada yang ngeyel laporkan pada dirinya, dan ia siap untuk lapor ke penegak hukum.

Ini sangat beralasan karena di beberapa daerah banyak kejadian dimana warga yang tak percaya dengan covid. Ada yang tak terima jika ada yang meninggal dunia di makamkan dengan protokol covid, selain itu banyak warga yang ngeyel dan tak mau di isolasi ketika dinyatakan atau bergejala virus corona.

“Kalau ada yang ngeyel, laporkan ke saya, saya akan laporkan ke penegak hukum, tangkap dia, saya bertanggung jawab. Saat ini saya sehat, kita sehat tapi kalau ada yang kena virus corona, tidak mau karantina lalu menyebarkan, tertular. Semua bisa tertular,” kata Gus Khayat

Kyai yang berpenampilan nyentrik ini meminta warga Banjarnegara sehat semua. Yang sakit karena corona sembuh karena Alloh. Pihaknya mendukung langkah Forkompinda untuk menuntaskan corona yang ada di Banjarnegara.

Terkait Maulid Nabi Muhammad SAW, ia berharap tidak ada perayaan besar besaran khawatir terjadi penularan besar besaran. Ia mencontohkan saat hari santri, tidak ada karnaval, tapi dilakukan di lingkungan masing masing. “Saya berharap tidak ada perayaan yang besar besaran, lebih baik di kamar dan di lingkungan masing-masing, dengan bershalawat, perbanyak shalawat. Ini situasi pandemi, harus benar benar ambil hikmah dari semua kejadian yang ada,” harapnya.

Sementara, dr Tegar Jati Kusuma dokter Sarsipol dan bertugas di RSI Banjarnegara menegaskan, agar warga yang terindikasi covid tidak perlu takut saat dikarantina ataupun dirawat di rumah sakit. ” Logika jangan terbalik, kalau takut dikarantina atau dirawat itu justru berbahaya. Karena bisa menularkan virus itu. Harusnya takut kalau menularkan virus dan menyebarkan orang di sekitar tertular,” kata dokter muda ini.

Ia menegaskan, penularan virus ini melalui droplet atau melalui cipratan ludah dan bersin. Sehingga penggunaan masker, cuci tangan menggunakan sabun, dan jaga jarak harus tetap menjadi budaya yang terus dilakukan. “Mungkin ini membosankan setiap hari mendengar himbauan itu, tetapi inilah cara pencegahan penularan virus tersebut,” tegas Tegar.