Ucapkan HBD Pelajar Dikeluarkan, Ini Jawaban Sekolah

bhinnekanusantara.id – Dinas Pendidikan Kota Surakarta, bersama KPAI Kota Surakarta dan Psikolog mendatangi SMP IT Nur Hidayah Surakarta, yang berlokasi di Banjarsari, Solo, pada Senin 13 Januari 2019. Langkah ini dilakukan menyusul kebijakan sekolah yang mengembalikan seorang siswi kelas VIII SMP berinisial AN kepada orang tuanya.

Rombongan dari Pemerintah Kota Surakarta tersebut ingin mengklarisifikasi berita yang menyebar di pemberitaan maupun di media sosial terkait adanya indikasi pengeluaran siswa tersebut.

Kabid SMP Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Bambang Wahyono mengatakan telah mengkonfirmasi kejadian tersebut dan meminta pihak sekolah untuk membuat laporan terkait berita yang beredar. Laporan tersebut ditujukan kepada Wali Kota Solo, dan ditembuskan kepada sejumlah pihak.

Menurut dia, perintah dari dinas, setelah ini sekolah disuruh membuat laporan tertulis hulu hilir kronogisnya yang ditujukan kepada Wali Kota dan beberapa tembusan-tembusannya. “Ditembuskan kepada Menteri PMK, Menteri PPA, Gubernur Jawa Tengah, DPRD Kota Surakarta Komisi IV, Polresta Surakarta, Komisi Perlindungan Anak Kota Surakarta dan Dinas Pendidikan Kota Surakarta,” ungkapnya saat ditemui usai kunjungan di SMP IT Nur Hidayah, Senin 13 Januari 2020.

Bambang juga mengatakan jika siswi yang bersangkutan saat ini sudah diterima di sekolah lain, yakni di SMP Muhammadiyah 10 Surakarta. Dan siswi bersangkutan juga telah menerima surat pindah dan surat rekomendari dari pihak sekolah.

Sementara itu, Kepala Sekolah, Zuhdi Yusrobi menepis anggapan yang muncul di media sosial terkait pengeluaran siswa akibat mengucapkan selamat ulang tahun ke lawan jenis. Zuhdi mengatakan sebenarnya pihak sekolah tidak mengeluarkan siswi yang bersangkutan, namun pihak sekolah melakukan sesuai prosedur dan jauh sebelum siswa tersebut dicabut haknya bersekolah di SMP IT Nur Hidayah.

Menurut dia pihak sekolah sudah menerapkan pola penanganan sesuai aturan mulai dari pendampingan konseling kepada AN hingga pemanggilan orang tua. Ada beberapa poin yang harus ditaati oleh siswa, bahkan aturan tersebut telah ditandatangani oleh siswa sebelum memulai masa pendidikan di SMP IT Nur Hidayah.

 Kita itu dasarnya poin 51 itu sudah harus keluar, lha ini 75.

Zuhdi mengatakan poin yang diterima siswi AN didominasi pada kasus yang sama, yakni kerap melanggar aturan sekolah dengan berkomunikasi dengan lawan jenis. Padahal sudah jelas larangan saat siswa awal masuk SMP IT Nur Hidayah tidak boleh interaksi berlebihan dengan lawan jenis. “Dan hal itu (interaksi berlebihan dengan lawan jenis) dinilai sebagai pelanggaran berat,” kata dia.

Selain itu, pihak sekolah juga berusaha membatasi siswanya bermain gadget. “Kita sudah tulis di poin ini ada pengembalian kepada orang tua karena sudah terakumulasi poin-poin tadi (pelanggaran) dan kita itu dasarnya poin 51 itu sudah harus keluar, lha ini 75,” ungkap Zuhdi.

Lebih lanjut, Zuhdi menambahkan pelanggaran yang dilakukan AN dilakukan sejak jauh-jauh hari, dan semua itu sudah diatur dalam buku Panduan Siswa. “Di buku ini kita bacakan kepada siswa dan orang tua semuanya ada aturan dan sanksinya, jelas. Kita juga memberikan rekomendasi kepada siswa bersangkutan untuk meneruskan sekolah di tempat lain,” urainya.

Zuhdi, berharap kasus tersebut tidak dibesar-besarkan lagi. Apalagi saat ini siswa bersangkutan sudah diterima di sekolah lainnya.

 

sumber : tagar

editor : dealova @polda jateng

#agussaibumi