Viral Bocah Tambaksari Demak Jalan Kaki Terjang Ombak Demi Masuk Sekolah
Demak - Sebuah video yang memperlihatkan sejumlah bocah di daerah Sayung Demak berjalan di jalanan yang rusak parah dan terendam air laut. Dalam video yang diunggah di Instagram oleh akun @informasi_terkini itu tampak kerusakan jalan yang cukup parah.
Sesekali terlihat ombak yang menghantam jalan yang dilewati para bocah. Mereka pun cukup berhati-hati agar tidak terpeleset atau terkena hantaman ombak.
Kondisi jalan itu membuat para orang tua khawatir. Mereka pun harus mengantar dan menjemput anaknya yang bersekolah melalui satu-satunya jalan tersebut.
Saat ini masih ada puluhan warga yang tinggal di Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Mereka masih bertahan bermukim di kampung mereka meski terdampak abrasi cukup parah.
Salah satunya adalah Sokhib, yang kini harus mengantar jemput anaknya usai satu-satunya akses jalan penghubung dari dukuhnya ke daratan hancur diterjang ombak pasang.
Tangan Sokhib tampak cekatan mengambil tongkat kayu yang ia sandarkan di bibir jembatan bambu penghubung daratan dengan jalan darat menuju rumahnya. Matanya tampak awas memperhatikan putranya yang masih kelas 3 SD, Ahmad Bakri, yang berjalan mendahuluinya.
Jalan Darat Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak hancur. Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng
Tongkat itu digunakan Sokhib untuk memilah-milah jalan berlumpur urukan proyek tol Semarang-Demak yang memisahkan daratan dengan akses jalan dusunnya.
"Cari yang tidak dalam, biar nggak njeblos," kata Sokhib saat berjalan beriringan dengan detikJateng, Rabu (28/1/2026).
Setibanya di muka jalan darat penghubung ke dusunnya, Sokhib langsung berjongkok dan disambut oleh sang anak yang naik ke punggungnya.
"Jalannya rusak, khawatir, jadi tak gendong," ujar Sokhib.
Sudah sekitar satu bulan, jalan yang nembelah laut sepanjang kurang lebih satu kilometer ini hancur diterjang ombak pasang. Selama itu pula, Sokhib dan para orang tua lain rutin mengantar jemput anak mereka untuk memastikan keselamatannya saat perjalanan menuntut ilmu.
"Dulu sepeda motor bisa lewat sini, tapi sekarang sudah ndak bisa. Ini jalan (darat) satu-satunya, selain itu ya naik perahu. Tapi kan ndak semua punya perahu, jadi jalan yang diutamakan," jelas Sokhib.
"Di sini (Dukuh Tambaksari), ada 13 KK sekarang. Sekitar delapan anak (yang) sekolah, ada yang PAUD, TK, dan SD," tambahnya.
Pantauan detikJateng, jalan penghubung yang membelah laut itu berbahan cor beton. Beberapa titik tampak rusak dengan panjang yang variatif dan sangat berbahaya untuk dilewati, terutama ketika ombak pasang dan hujan.
"Kalau pagi-pagi (ombak) pasang, kelihatan mendung atau hujan, izin sama gurunya lewat HP bilang nggak sekolah hari ini. Alhamdulillah enggak pernah ada korban," kata Sokhib.
sumber: detikjateng